v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat Asy-Syarḥ (Pelapangan)
الشّرح
Ayat 4 / 8 •  Surat 94 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.5 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ

Wa rafa‘nā laka żikrak(a).

dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu?

Makna Surat Asy-Syarh Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

dan Kami pun telah tinggikan sebutan namamu bagimu. Kami sebut namamu secara berurutan dengan nama-Ku, seperti dalam syahadat, azan, tasyahud, dan sebagainya. Itu adalah kemuliaan tersendiri yang tidak Kami berikan kepada nabi-nabi yang lain.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad, meninggikan kedudukan dan memperbesar pengaruhnya. Apakah ada kedudukan yang lebih mulia dari kedudukan nubuwwah (kenabian) yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Apakah ada yang lebih utama dari tersebarnya ke seluruh dunia pengikut-pengikut yang setia yang patuh menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya.

Mereka melakukan yang demikian itu karena yakin bahwa dalam menjalankan perintah-perintahnya itu terdapat keuntungan yang besar, sedang mendurhakainya adalah kerugian besar. Apakah ada sebutan yang lebih mulia dan dapat membanggakan hati daripada menyebut namanya bersama nama Allah Yang Maha Pengasih, sebagai tanda kesempurnaan insani? Sebutan mana lagi yang lebih mulia daripada sebutan yang dijadikan tanda pengakuan kerasulannya dan pengakuan tersebut dijadikan syarat seseorang menjadi penghuni surga.

Selain dari itu, Nabi saw telah membebaskan umat manusia dari perbudakan, kebodohan, dan kerusakan pikiran, serta membawa manusia kembali kepada fitrah yang menjamin kebebasan berpikir dan berkehendak. Dengan demikian, manusia dapat menemukan yang hak dan mengetahui siapakah sebenarnya yang harus disembah. Mereka kemudian bersatu dalam keimanan dan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, sesudah mereka berbeda-beda dalam penyembuhan mereka. Beliaulah yang menyingkirkan awan-awan kegelapan dari mereka, serta menerangi jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepada kejayaan dan kebahagiaan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Wizraka وِزْرَكَ (asy-Syarḥ/94: 2)

Kata wizraka terdiri dari dua kata yaitu wizr dan ḍamīr muttaṣil mukhāṭabah “ka” yang berarti kamu. Kata wizr berasal dari kata al-wazar yang berarti gunung yang dijadikan sebagai tempat berlindung. Kemudian kata ini digunakan untuk beban berat yang dipikul menyerupai gunung yang memberi kesan sesuatu yang besar dan berat. Dari kata ini lahir kata wazīr misalnya yang menunjukkan pada pemikulan tugas dan tanggung jawab yang berat dari tuannya. Wizr juga diartikan dengan dosa, karena dengan dosa seseorang akan merasakan dalam jiwanya sesuatu yang sangat berat. Di samping itu, dosa akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul pada hari Kiamat nanti. Bentuk jamaknya adalah auzār. Auzārul-ḥarb adalah alat-alat berat yang digunakan dalam peperangan. Al-Muwāzarah juga berarti menolong urusan seseorang, seperti doa Nabi Musa dalam Surah Ṭāhā/20: 29, yang menginginkan Nabi Harun sebagai wazīr-nya (penolong). Kata ini dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 27 kali dalam Al-Qur’an.

Maksud ayat ini adalah Allah telah menanggalkan beban yang memberatkan punggung Nabi Muhammad dan melapangkan dadanya. Menurut sebagian ulama, beban ini adalah rasa cemas dan khawatir yang menghinggapi jiwa Rasul terkait dengan risalah dakwah yang beliau emban. Kata ini memberi kesan bahwa Rasulullah senantiasa memikirkan umatnya yang terus menghambat dan menghalang-halangi dakwahnya. Ini merupakan suatu beban (wizr) yang dipikul Muhammad.

2. Anqaḍa اَنْقَضَ (asy-Syarḥ/94: 3)

Lafal anqaḍa berasal dari kata naqaḍa-yanquḍu-naqḍ yang berarti mengurai sesuatu yang sudah terikat atau merusak. Biasanya berkaitan dengan ikatan tali atau bangunan. Dari sini lahir makna pelanggaran perjanjian yang telah disepakati seakan-akan ia mengurai tali yang sudah terikat atau menghancurkan bangunan yang sudah kokoh. Naqīḍ berarti suara yang terdengar saat memikul beban yang berat yang muncul dari alat pikul tersebut. Kokok ayam betina saat setelah bertelur diungkapkan dengan intaqaḍat ad-dajājah. Makna ini yang dimaksud dalam ayat ini yaitu beban berat yang dipikul punggung.

Pada surat ini, Allah menjelaskan tentang nikmat atau anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad. Pada ayat sebelumnya, dijelaskan tentang nikmat as-syarḥ atau pelapangan dada berupa rasa nyaman dan ketenangan yang dirasakan Muhammad dengan kehadiran Tuhannya. Pada ayat ini, Allah menambahkan nikmat-Nya dengan menghilangkan beban yang selama ini memberatkan punggung Muhammad. Kata anqaḍa sampai punggungnya diungkapkan dengan suara kayu atau bambu. Ada beberapa pendapat mengenai beban berat yang diderita Muhammad, di antaranya adalah wafatnya istri dan paman beliau yaitu Khadijah dan Abū Ṭālib, beratnya wahyu yang diterimanya, dan beratnya keadaan masyarakat Jahiliah yang enggan menerima risalah yang dibawanya.