v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Asy-Syarḥ (Pelapangan)
الشّرح
Ayat 3 / 8 •  Surat 94 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.5 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ

Allażī anqaḍa ẓahrak(a).

yang memberatkan punggungmu,

Makna Surat Asy-Syarh Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

yang memberatkan punggungmu? Kami jadikan tugasmu yang sejatinya berat, seperti menyampaikan risalah dan mendakwahkan syariat, terasa ringan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa Dia berkenan meringankan beban yang dipikulkan kepada Nabi Muhammad dalam menunaikan penyebaran risalah-Nya. Dengan demikian, dengan mudah Nabi dapat menyampaikannya kepada manusia, dan dengan jiwa yang tenteram menghadapi tantangan musuh-musuhnya walaupun kadang-kadang tantangan itu berbahaya.

Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul, maka beliau mulai melaksanakan tugas menyampaikan agama Allah kepada orang-orang Quraisy. Karena timbul reaksi yang kuat dari mereka, beliau menyiarkan agama Islam dengan sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, beliau merasakan sangat berat melakukan tugas itu. Dengan masuk Islamnya beberapa orang pembesar Quraisy seperti Umar bin Khaṭṭāb, Hamzah, dan lain-lain, Rasulullah merasa ringan melaksanakan tugasnya. Hal ini ditambah lagi dengan datangnya perintah Allah untuk menyiarkan agama Islam dengan terang-terangan dan adanya jaminan Allah untuk menolong beliau, sebagaimana firman-Nya:

فَاصْدَ ْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْن َ ٩٤ اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِء ِيْنَۙ ٩٥ الَّذِيْنَ يَجْعَلُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ ٩٦

Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau), (yaitu) orang yang menganggap adanya tuhan selain Allah. Mereka kelak akan mengetahui (akibatnya). (al-Ḥijr/15: 94-96)

Isi Kandungan Kosakata

1. Wizraka وِزْرَكَ (asy-Syarḥ/94: 2)

Kata wizraka terdiri dari dua kata yaitu wizr dan ḍamīr muttaṣil mukhāṭabah “ka” yang berarti kamu. Kata wizr berasal dari kata al-wazar yang berarti gunung yang dijadikan sebagai tempat berlindung. Kemudian kata ini digunakan untuk beban berat yang dipikul menyerupai gunung yang memberi kesan sesuatu yang besar dan berat. Dari kata ini lahir kata wazīr misalnya yang menunjukkan pada pemikulan tugas dan tanggung jawab yang berat dari tuannya. Wizr juga diartikan dengan dosa, karena dengan dosa seseorang akan merasakan dalam jiwanya sesuatu yang sangat berat. Di samping itu, dosa akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul pada hari Kiamat nanti. Bentuk jamaknya adalah auzār. Auzārul-ḥarb adalah alat-alat berat yang digunakan dalam peperangan. Al-Muwāzarah juga berarti menolong urusan seseorang, seperti doa Nabi Musa dalam Surah Ṭāhā/20: 29, yang menginginkan Nabi Harun sebagai wazīr-nya (penolong). Kata ini dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 27 kali dalam Al-Qur’an.

Maksud ayat ini adalah Allah telah menanggalkan beban yang memberatkan punggung Nabi Muhammad dan melapangkan dadanya. Menurut sebagian ulama, beban ini adalah rasa cemas dan khawatir yang menghinggapi jiwa Rasul terkait dengan risalah dakwah yang beliau emban. Kata ini memberi kesan bahwa Rasulullah senantiasa memikirkan umatnya yang terus menghambat dan menghalang-halangi dakwahnya. Ini merupakan suatu beban (wizr) yang dipikul Muhammad.

2. Anqaḍa اَنْقَضَ (asy-Syarḥ/94: 3)

Lafal anqaḍa berasal dari kata naqaḍa-yanquḍu-naqḍ yang berarti mengurai sesuatu yang sudah terikat atau merusak. Biasanya berkaitan dengan ikatan tali atau bangunan. Dari sini lahir makna pelanggaran perjanjian yang telah disepakati seakan-akan ia mengurai tali yang sudah terikat atau menghancurkan bangunan yang sudah kokoh. Naqīḍ berarti suara yang terdengar saat memikul beban yang berat yang muncul dari alat pikul tersebut. Kokok ayam betina saat setelah bertelur diungkapkan dengan intaqaḍat ad-dajājah. Makna ini yang dimaksud dalam ayat ini yaitu beban berat yang dipikul punggung.

Pada surat ini, Allah menjelaskan tentang nikmat atau anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad. Pada ayat sebelumnya, dijelaskan tentang nikmat as-syarḥ atau pelapangan dada berupa rasa nyaman dan ketenangan yang dirasakan Muhammad dengan kehadiran Tuhannya. Pada ayat ini, Allah menambahkan nikmat-Nya dengan menghilangkan beban yang selama ini memberatkan punggung Muhammad. Kata anqaḍa sampai punggungnya diungkapkan dengan suara kayu atau bambu. Ada beberapa pendapat mengenai beban berat yang diderita Muhammad, di antaranya adalah wafatnya istri dan paman beliau yaitu Khadijah dan Abū Ṭālib, beratnya wahyu yang diterimanya, dan beratnya keadaan masyarakat Jahiliah yang enggan menerima risalah yang dibawanya.