v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 5 - Surat Asy-Syarḥ (Pelapangan)
الشّرح
Ayat 5 / 8 •  Surat 94 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.5 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Fa'inna ma‘al-‘usri yusrā(n).

Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

Makna Surat Asy-Syarh Ayat 5
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Demikianlah nikmat-nikmat-Ku kepadamu. Maka tetaplah optimis dan berharap pada pertolongan Tuhanmu karena sesungguhnya beserta kesulitan apa pun pasti ada kemudahan yang menyertainya. Engkau hadapi kesulitan besar dalam menyampaikan dakwah kepada kaummu; mereka ingkar dan menentangmu, tetapi Allah memberimu kemudahan untuk menaklukkan mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa sesungguhnya di dalam setiap kesempitan, terdapat kelapangan, dan di dalam setiap kekurangan sarana untuk mencapai suatu keinginan, terdapat pula jalan keluar. Namun demikian, dalam usaha untuk meraih sesuatu itu harus tetap berpegang pada kesabaran dan tawakal kepada Allah. Ini adalah sifat Nabi saw, baik sebelum beliau diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya, ketika beliau terdesak menghadapi tantangan kaumnya.

Walaupun demikian, beliau tidak pernah gelisah dan tidak pula mengubah tujuan, tetapi beliau bersabar menghadapi kejahatan kaumnya dan terus menjalankan dakwah sambil berserah diri dengan tawakal kepada Allah dan mengharap pahala daripada-Nya. Begitulah keadaan Nabi saw sejak permulaan dakwahnya. Pada akhirnya, Allah memberikan kepadanya pendukung-pendukung yang mencintai beliau sepenuh hati dan bertekad untuk menjaga diri pribadi beliau dan agama yang dibawanya. Mereka yakin bahwa hidup mereka tidak akan sempurna kecuali dengan menghancurleburkan segala sendi kemusyrikan dan kekufuran. Lalu mereka bersedia menebus pahala dan nikmat yang disediakan di sisi Allah bagi orang-orang yang berjihad pada jalan-Nya dengan jiwa, harta, dan semua yang mereka miliki. Dengan demikian, mereka sanggup menghancurkan kubu-kubu pertahanan raja-raja Persi dan Romawi.

Ayat tersebut seakan-akan menyatakan bahwa bila keadaan telah terlalu gawat, maka dengan sendirinya kita ingin keluar dengan selamat dari kesusahan tersebut dengan melalui segala jalan yang dapat ditempuh, sambil bertawakal kepada Allah. Dengan demikian, kemenangan bisa tercapai walau bagaimanapun hebatnya rintangan dan cobaan yang dihadapi.

Dengan ini pula, Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa keadaannya akan berubah dari miskin menjadi kaya, dari tidak mempunyai teman sampai mempunyai saudara yang banyak dan dari kebencian kaumnya kepada kecintaan yang tidak ada taranya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fanṣab فَانْصَبْ (asy-Syarḥ/94: 7)

Kata fanṣab terdiri atas dua kata yaitu fā’ sebagai huruf ‘aṭaf yang diartikan dengan “maka”, dan anṣab yang merupakan fi‘il ‘amr (kata kerja menunjukkan perintah) yang terambil dari kata naṣaba. Kata naṣaba pada awalnya bermakna menegakkan sesuatu hingga menjadi mantap dan nyata. An-Naṣīb diartikan dengan batu yang ditancapkan pada sesuatu agar kuat dan tegak. Naṣīb juga diartikan dengan bagian tertentu yang telah ditegakkan sehingga menjadi nyata dan jelas atau karena tegaknya, sesuatu tersebut tidak dapat dihindari atau dielakkan. Nasib adalah sesuatu yang harus diterima tanpa bisa ditolak. Akibat dari upaya penegakan juga diungkapkan dengan naṣb yaitu rasa lemah dan letih. Makna ini yang dimaksud dari lafal di atas. Fa iżā faragta fanṣab (Maka apabila engkau telah selesai maka (bekerjalah) hingga engkau merasa letih).

Maksud ayat ini adalah hendaklah kita bisa memanfaatkan waktu seefektif mungkin sehingga tidak ada waktu luang sedikit pun yang bisa saja digunakan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Jika telah selesai suatu pekerjaan, maka hendaklah memulai lagi dengan pekerjaan lain sampai tegak atau nyata pekerjaan tersebut dan atau persoalan lain yang mesti diselesaikan. Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya.

2. Fargab فَارْغَبْ (asy-Syarḥ/94: 8)

Kata fargab terdiri dari huruf fā’ dan irgab. Kata irgab adalah fi‘il ‘amr (kata kerja menunjukkan perintah) yang terambil dari kata ragiba yang berarti ingin, berkehendak dan suka/cinta bila digandengkan dengan fī dan bila digandengkan dengan ‘an, maka berarti benci tidak suka.

Dengan demikian, maka kata ragiba digunakan untuk menggambarkan kecenderungan hati yang sangat mendalam kepada sesuatu, baik untuk menyukai maupun untuk membenci.

Kata ilā pada ayat 8 Surah asy-Syarḥ mendahului kata fargab merupakan penekanan khusus menyangkut perintah untuk berharap, yakni hendaknya harapan dan kecenderungan yang mendalam itu hanya tertuju kepada Allah.

Kata ragiba dan yang serumpun dengannya disebutkan 8 kali dalam Al-Qur’an, di antaranya disebutkan dalam Surah asy-Syarḥ tersebut dengan kata fargab.