وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
Wa akhī hārūnu huwa afṣaḥu minnī lisānan fa'arsilhu ma‘iya rid'ay yuṣaddiqunī, innī akhāfu ay yukażżibūn(i).
Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku.564) Maka, utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)-ku. Sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.”
Karena itu, lindungilah aku dan mantapkanlah hatiku karena tiada perlindungan kecuali dari-Mu, dan sebagaimana Engkau ketahui ada ikatan yang membelenggu lidahku, sedangkan saudaraku, Harun, dia lebih fasih lidahnya dan lebih lancar bicaranya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataan-ku dalam menyampaikan pesan-pesan suci dari-Mu; sungguh, aku takut mereka, Fir`aun dan kaumnya, akan mendustakanku.”
Musa mengadukan kepada Tuhannya bahwa dulu dia pernah membunuh seorang anak muda. Hal itu telah tersiar luas di kalangan orang Mesir, dan Fir‘aun telah menetapkan untuk membunuhnya. Hal itu sangat mengkhawatirkan Musa, siapa tahu setibanya di sana, Fir‘aun dan kaumnya telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Dengan demikian risalah yang telah dibebankan kepadanya menjadi terlantar.
Musa juga mengadukan bahwa ia mempunyai seorang saudara bernama Harun yang lebih fasih perkataannya daripadanya, lebih pandai berdebat dan memberikan keterangan. Dengan kefasihannya, Harun akan dapat membelanya, bila Fir‘aun dan kaumnya membuat tuduhan-tuduhan yang mungkin memberatkannya.
1. Rid’an رِدْءًا (al-Qaṣaṣ/28: 34)
Akar katanya adalah rada’a-yarda’u-rad’ yang berarti ‘menyokong’. Kata rid’un adalah kata bendanya, artinya ‘pengikut yang selalu menyokongnya’. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 34 terdapat ayat, fa’arsilhu ma’iya rid’an yuṣaddiqunī (utuslah ia bersamaku sebagai penyokong yang selalu membenarkanku). Itu adalah ucapan Nabi Musa yang memohon kepada Allah agar adiknya, Nabi Harun, dapat dijadikan pendampingnya yang setia.
2.’Aḍudaka عَضُدَكَ (al-Qaṣaṣ/28: 35)
Akar katanya adalah ‘aḍada-ya’ḍudu-’a udan yang berarti ‘menyokong’ atau ‘membantu’. Al-’Aḍud adalah ‘penyokong’ atau ‘pembantu’. Al-’Aḍud secara harfiah berarti ‘lengan’, maksudnya adalah penyokong utama. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, wa mā kuntu muttakhizal-muḍillīna ‘aḍudā (dan saya tidak akan mengambil orang-orang yang menyesatkan sebagai penyokong utama) (al-Kahf/18: 51). Maksudnya adalah Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang sesat dan menyesatkan sebagai pembantu yang akan menjalankan agama-Nya.

