قَالَ رَبِّ اِنِّيْ قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ
Qāla rabbi innī qataltu minhum nafsan fa'akhāfu ay yaqtulūn(i).
(Musa) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seseorang dari mereka sehingga aku takut mereka akan membunuhku.
Masih dalam keadaan takut dan sambil memohon pertolongan Allah, Musa berkata mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya, “Ya Tuhan Pemelihara-ku, sungguh aku ketika berada di Mesir sekian tahun yang lalu telah membunuh tanpa sengaja seorang dari golongan mereka, yakni penduduk negeri Mesir, sehingga aku takut mereka akan membunuhku sebagai tindak balasan. Kalau mereka membunuhku maka aku tidak bisa menyampaikan risalah-Mu.
Musa mengadukan kepada Tuhannya bahwa dulu dia pernah membunuh seorang anak muda. Hal itu telah tersiar luas di kalangan orang Mesir, dan Fir‘aun telah menetapkan untuk membunuhnya. Hal itu sangat mengkhawatirkan Musa, siapa tahu setibanya di sana, Fir‘aun dan kaumnya telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Dengan demikian risalah yang telah dibebankan kepadanya menjadi terlantar.
Musa juga mengadukan bahwa ia mempunyai seorang saudara bernama Harun yang lebih fasih perkataannya daripadanya, lebih pandai berdebat dan memberikan keterangan. Dengan kefasihannya, Harun akan dapat membelanya, bila Fir‘aun dan kaumnya membuat tuduhan-tuduhan yang mungkin memberatkannya.
1. Rid’an رِدْءًا (al-Qaṣaṣ/28: 34)
Akar katanya adalah rada’a-yarda’u-rad’ yang berarti ‘menyokong’. Kata rid’un adalah kata bendanya, artinya ‘pengikut yang selalu menyokongnya’. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 34 terdapat ayat, fa’arsilhu ma’iya rid’an yuṣaddiqunī (utuslah ia bersamaku sebagai penyokong yang selalu membenarkanku). Itu adalah ucapan Nabi Musa yang memohon kepada Allah agar adiknya, Nabi Harun, dapat dijadikan pendampingnya yang setia.
2.’Aḍudaka عَضُدَكَ (al-Qaṣaṣ/28: 35)
Akar katanya adalah ‘aḍada-ya’ḍudu-’a udan yang berarti ‘menyokong’ atau ‘membantu’. Al-’Aḍud adalah ‘penyokong’ atau ‘pembantu’. Al-’Aḍud secara harfiah berarti ‘lengan’, maksudnya adalah penyokong utama. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, wa mā kuntu muttakhizal-muḍillīna ‘aḍudā (dan saya tidak akan mengambil orang-orang yang menyesatkan sebagai penyokong utama) (al-Kahf/18: 51). Maksudnya adalah Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang sesat dan menyesatkan sebagai pembantu yang akan menjalankan agama-Nya.

