وَاَنْ اَلْقِ عَصَاكَ ۗفَلَمَّا رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ وَّلّٰى مُدْبِرًا وَّلَمْ يُعَقِّبْۗ يٰمُوْسٰىٓ اَقْبِلْ وَلَا تَخَفْۗ اِنَّكَ مِنَ الْاٰمِنِيْنَ
Wa alqi ‘aṣāk(a), falammā ra'āhā tahtazzu ka'annahā jānnuw wallā mudbiraw wa lam yu‘aqqib, yā mūsā aqbil wa lā takhaf, innaka minal-āminīn(a).
Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular kecil yang gesit, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman,) “Wahai Musa, kemarilah dan jangan takut! Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman.563)
Dan lemparkanlah tongkatmu supaya kamu dapat melihat sekelumit hikmah dan kekuasaan-Ku.” Maka, Musa pun segera melemparkannya dan kemudian Allah mengubah tongkat tersebut menjadi seekor ular. Ketika Musa melihat tongkatnya bergerak-gerak seakan-akan seekor ular kecil yang gesit padahal dia seekor ular besar, dia terkejut, takut dan lari berbalik arah ke belakang tanpa menoleh. Lalu ia mendengar Allah berfirman, “Wahai Musa! Kemarilah dan jangan takut melihat ular itu. Singkirkanlah rasa takut yang sedang menguasai jiwamu dan tenanglah karena sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman dari segala sesuatu yang membahayakan. Setiap rasul yang merupakan utusan Allah tidak akan merasa takut selama dia berada di sisi-Nya. Bahkan, siapa pun yang mendekatkan diri kepada Allah ia pasti akan merasa aman dan tenteram.
Kemudian Allah memerintahkan kepada Musa supaya melemparkan tongkatnya. Musa dengan patuh melemparkan tongkatnya, tetapi tongkat itu berubah menjadi ular besar yang bergerak dengan cepat dan gesit. Musa sangat terkejut dan merasa ngeri serta takut melihat ular itu. Dengan serta merta, ia lari tanpa menoleh ke belakang. Tidak ada yang dipikirkannya kecuali menyelamatkan diri dari gigitan ular yang dahsyat itu.
Di waktu itu Tuhan berseru lagi agar Musa kembali ke tempat semula dan jangan takut kepada ular itu. Ular itu hanyalah tongkatnya yang berubah menjadi ular dan tidak akan mengganggunya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengganggu ketenteramannya. Ini adalah mukjizat yang Allah berikan kepada Musa untuk menghadapi Fir‘aun yang sombong dan takabur. Hati Musa merasa aman dan tenteram setelah mendengar bahwa keamanannya dijamin oleh Allah.
1. Ānasa آنَسَ (al-Qaṣaṣ/28: 29)
Kata itu terambil dari kata dasar anisa-ya’nasu/ya’nusu-an as, atau anasa-ya’nisu-ans, yang mengandung makna “lawan liar” berarti “jinak”. Ānasa berarti terjadi antara dua pihak, jinak-menjinakkan, dekat-mendekati, yang diterjemahkan menjadi “melihat” karena sasaran sudah jinak dan dekat dari pemantau. Dalam Al-Qur’an terdapat fa’in ānastum minhum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum (an-Nisā’/4: 6), artinya “jika kalian melihat kedewasaan pada mereka, maka serahkanlah harta mereka”, yaitu harta anak yatim yang diasuh. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 29 disebutkan ānasa min jānib al-ṭūr nāran (ia melihat api di lereng Gunung Tur). Maksudnya adalah Musa ketika menempuh perjalanan dengan istrinya dari Madyan menuju Mesir dalam malam yang gelap gulita, tiba-tiba ia melihat ada api di lereng Gunung Tur.
Dari akar kata di atas terbentuk kata ista’nasa artinya “membuat hilang rasa keasingan seseorang sehingga orang itu mendengar dan menoleh”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, ḥattā tasta’nisū wa tusallimū ilā ahlihā (an-Nūr/24: 27). Maksudnya: tamu tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah seseorang sebelum ia memberi isyarat dengan ketukan pintu atau lainnya, sehingga tuan rumah “hilang keasingannya, mendengar, dan menoleh kepadanya.”
Terdapat akar kata lain dari ānasa di atas, yaitu anisa-ya’nasu-ans artinya “akrab dan lekat di hati”. Dari kata itu terbentuk kata ins (manusia) sebagai lawan kata “jin”. Al-Insān adalah “manusia”, dinamakan demikian karena seorang kepada orang lain lekat di hati masing-masing, sehingga ia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa ketergantungan kepada orang lain.
2. Al-Buq’ah al-Mubārakah اَلْبُقْعَةُ اَلْمُبَارَكَة ُ (al-Qaṣaṣ/28: 30)
Buq’ah adalah tanah datar yang terbentuk di dalam lembah yang terdapat di antara dua gunung menjadi tempat air mengalir di waktu hujan. Berasal dari kata dasar baqa’a-yabqa’u baq’an artinya “pergi ke lembah”. Buq’ah Mubārakah, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qaṣaṣ/28: 30, adalah sebuah tanah datar di sebelah kanan lembah tempat Musa dipanggil oleh Allah dalam perjalanannya dari Madyan menuju Mesir. Tanah datar lembah itu “diberkahi”, karena tempat itu memperoleh kemuliaan sebagai tempat dipanggilnya Musa untuk menghadap Allah. Tempat itu juga dianggap “suci”, karena Musa diminta untuk menanggalkan sandalnya ketika menghadap Allah di sana (Ṭāhā/20: 12). Tempat persisnya lembah itu sekarang tidak diketahui karena rute perjalanan Musa juga tidak diketahui secara pasti. Menurut aṭ-Ṭabaṭaba’ī, pemanggilan Musa oleh Allah itu tidak mungkin dipahami seperti manusia memanggil sesamanya. Pemanggilan itu mestilah dari balik hijab sesuai penegasan Allah dalam asy-Syūrā/42: 51, yaitu manusia tidak dapat melihat dan mendengar Allah seperti manusia melihat dan mendengar manusia lain.

