v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 32 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 32 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 389 •  Quarter Hizb 39.75 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

اُسْلُكْ يَدَكَ فِيْ جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ ۖوَّاضْمُمْ اِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذٰنِكَ بُرْهَانٰنِ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰى فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ

Usluk yadaka fī jaibika takhruj baiḍā'a min gairi sū'(in), waḍmum ilaika janāḥaka minar-rahbi fażānika burhānāni mir rabbika ilā fir‘auna wa mala'ih(ī), innahum kānū qauman fāsiqīn(a).

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, ia akan keluar (dalam keadaan bercahaya) putih bukan karena cacat. Dekapkanlah kedua tanganmu jika engkau takut. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan engkau tunjukkan) kepada Firʻaun dan para pembesarnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”

Makna Surat Al-Qasas Ayat 32
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Masukkanlah tanganmu ke dalam celah terbuka yang terdapat pada leher bajumu, niscaya dia akan keluar putih bercahaya tanpa cacat atau bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu apabila ketakutan agar hilang rasa takut dan kembali tenang. Jangan panik ketika kamu menyaksikan tongkat itu berubah menjadi ular atau saat tanganmu berubah putih berkilau. Tongkat yang dapat berubah menjadi ular dan tangan yang bersinar itulah dua mukjizat dari Tuhanmu yang akan engkau pertunjukkan kepada Fir’aun dan para pembesarnya. Sungguh, mereka adalah orang-orang fasik, yang keluar dari ketaatan kepada Allah.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah memerintahkan Musa supaya memasukkan tangannya ke baju. Perintah ini pun dilaksanakan Musa dengan taat dan patuh. Ketika ia mengeluarkan tangannya dari leher bajunya, ia melihat tangannya berubah menjadi putih bercahaya dan bersinar bukan karena sakit sopak atau yang lainnya. Musa kaget, terkejut, dan merasa takut. Akan tetapi, segera sesudah itu turun pula perintah Tuhan untuk menghilangkan rasa terkejut dan takut yang telah menguasai dirinya supaya dia mendekapkan kedua tangannya ke dada.

Kemudian Allah menegaskan kepada Musa bahwa dua mukjizat yang diberikan kepadanya adalah untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Musa diperintahkan untuk memperlihatkan kedua mukjizat itu kepada Fir‘aun yang sombong dan fasik ketika Musa menyerunya agar dia beriman kepada Allah dan meninggalkan kesesatan yang dianutnya. Ketika itu, Musa mengerti bahwa di atas pundaknya telah dibebankan risalah yang harus disampaikan kepada Fir‘aun dan kaumnya, serta kepada Bani Israil sendiri. Ini berarti bahwa dia telah menjadi rasul. Dengan demikian, apa yang dijanjikan Allah kepada ibu Musa bahwa putranya akan dikembalikan ke haribaannya telah terlaksana di waktu Musa masih kecil. Sekarang terlaksana pula janji Allah yang kedua bahwa Dia mengangkat Musa menjadi rasul.

Sebelum ini, yang mendorong Musa meninggalkan Madyan menuju Mesir adalah perasaan rindu kepada kampung halaman dan sanak keluarganya. Ia berani melakukan hal itu karena dia berharap orang Mesir telah lupa akan peristiwa pembunuhan yang dilakukannya di masa lampau sehingga ia dapat memasuki Mesir secara diam-diam. Akan tetapi, ia sekarang harus kembali ke sana secara terang-terangan dan menentang kekuasaan Fir‘aun yang perkasa. Dengan begitu, Fir‘aun dan kaumnya pasti akan membunuh-nya. Dia mulai merasa khawatir terhadap dirinya kalau dia pergi sendirian. Hal yang lebih dikhawatirkannya adalah kalau ia terbunuh oleh Fir‘aun, tentu risalah Tuhannya tidak akan sampai kepada kaumnya (Bani Israil).

Isi Kandungan Kosakata

1. Ānasa آنَسَ (al-Qaṣaṣ/28: 29)

Kata itu terambil dari kata dasar anisa-ya’nasu/ya’nusu-an as, atau anasa-ya’nisu-ans, yang mengandung makna “lawan liar” berarti “jinak”. Ānasa berarti terjadi antara dua pihak, jinak-menjinakkan, dekat-mendekati, yang diterjemahkan menjadi “melihat” karena sasaran sudah jinak dan dekat dari pemantau. Dalam Al-Qur’an terdapat fa’in ānastum minhum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum (an-Nisā’/4: 6), artinya “jika kalian melihat kedewasaan pada mereka, maka serahkanlah harta mereka”, yaitu harta anak yatim yang diasuh. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 29 disebutkan ānasa min jānib al-ṭūr nāran (ia melihat api di lereng Gunung Tur). Maksudnya adalah Musa ketika menempuh perjalanan dengan istrinya dari Madyan menuju Mesir dalam malam yang gelap gulita, tiba-tiba ia melihat ada api di lereng Gunung Tur.

Dari akar kata di atas terbentuk kata ista’nasa artinya “membuat hilang rasa keasingan seseorang sehingga orang itu mendengar dan menoleh”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, ḥattā tasta’nisū wa tusallimū ilā ahlihā (an-Nūr/24: 27). Maksudnya: tamu tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah seseorang sebelum ia memberi isyarat dengan ketukan pintu atau lainnya, sehingga tuan rumah “hilang keasingannya, mendengar, dan menoleh kepadanya.”

Terdapat akar kata lain dari ānasa di atas, yaitu anisa-ya’nasu-ans artinya “akrab dan lekat di hati”. Dari kata itu terbentuk kata ins (manusia) sebagai lawan kata “jin”. Al-Insān adalah “manusia”, dinamakan demikian karena seorang kepada orang lain lekat di hati masing-masing, sehingga ia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa ketergantungan kepada orang lain.

2. Al-Buq’ah al-Mubārakah اَلْبُقْعَةُ اَلْمُبَارَكَة ُ (al-Qaṣaṣ/28: 30)

Buq’ah adalah tanah datar yang terbentuk di dalam lembah yang terdapat di antara dua gunung menjadi tempat air mengalir di waktu hujan. Berasal dari kata dasar baqa’a-yabqa’u baq’an artinya “pergi ke lembah”. Buq’ah Mubārakah, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qaṣaṣ/28: 30, adalah sebuah tanah datar di sebelah kanan lembah tempat Musa dipanggil oleh Allah dalam perjalanannya dari Madyan menuju Mesir. Tanah datar lembah itu “diberkahi”, karena tempat itu memperoleh kemuliaan sebagai tempat dipanggilnya Musa untuk menghadap Allah. Tempat itu juga dianggap “suci”, karena Musa diminta untuk menanggalkan sandalnya ketika menghadap Allah di sana (Ṭāhā/20: 12). Tempat persisnya lembah itu sekarang tidak diketahui karena rute perjalanan Musa juga tidak diketahui secara pasti. Menurut aṭ-Ṭabaṭaba’ī, pemanggilan Musa oleh Allah itu tidak mungkin dipahami seperti manusia memanggil sesamanya. Pemanggilan itu mestilah dari balik hijab sesuai penegasan Allah dalam asy-Syūrā/42: 51, yaitu manusia tidak dapat melihat dan mendengar Allah seperti manusia melihat dan mendengar manusia lain.