فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنْ يّٰمُوْسٰىٓ اِنِّيْٓ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
Falammā atāhā nūdiya min syāṭi'il wādil aimani fil buq‘atil mubārakati minasy syajarati ay yā mūsā innī anallāhu rabbul-‘ālamīn(a).
Maka, ketika dia (Musa) mendatangi (api) itu, dia dipanggil dari pinggir lembah di sebelah kanan (Musa) dari (arah) pohon di sebidang tanah yang diberkahi. “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.562)
Setelah berpesan kepada keluarganya, berangkatlah Nabi Musa. Maka ketika dia sampai ke tempat yang dilihatnya sebagai sumber api itu, dia diseru dari arah pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon yang tumbuh di sebidang tanah yang diberkahi. Panggilan itu adalah, “Wahai Musa! Sungguh, Aku yang engkau dengar memanggilmu ini adalah Allah, tidak ada yang patut disembah selain Aku, Tuhan Pencipta, Pemelihara dan Pengawas seluruh alam!
Musa berjalan ke arah api yang dilihatnya itu. Tatkala dia sudah berada di dekat api itu, ia diseru oleh suatu suara di lembah sebelah kanannya. Ia mendengar seruan yang menyatakan kepadanya bahwasanya itu adalah seruan Allah, Tuhan sekalian alam. Musa mendengar seruan Tuhannya di malam yang sunyi senyap, di lembah dalam keadaan sendiri, dan tak seorang pun yang menemaninya. Bagaimana Musa dapat mendengar Kalam Ilahi langsung dari Tuhannya? Karena hal itu adalah suatu hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dia telah mengilhamkan kepada Musa keyakinan bahwa yang berbicara dengannya adalah Tuhan sekalian alam. Lembah di mana Musa berdiri dijadikan tempat yang penuh berkah karena di sanalah Musa mendengar firman Tuhannya dan diangkat menjadi rasul.
1. Ānasa آنَسَ (al-Qaṣaṣ/28: 29)
Kata itu terambil dari kata dasar anisa-ya’nasu/ya’nusu-an as, atau anasa-ya’nisu-ans, yang mengandung makna “lawan liar” berarti “jinak”. Ānasa berarti terjadi antara dua pihak, jinak-menjinakkan, dekat-mendekati, yang diterjemahkan menjadi “melihat” karena sasaran sudah jinak dan dekat dari pemantau. Dalam Al-Qur’an terdapat fa’in ānastum minhum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum (an-Nisā’/4: 6), artinya “jika kalian melihat kedewasaan pada mereka, maka serahkanlah harta mereka”, yaitu harta anak yatim yang diasuh. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 29 disebutkan ānasa min jānib al-ṭūr nāran (ia melihat api di lereng Gunung Tur). Maksudnya adalah Musa ketika menempuh perjalanan dengan istrinya dari Madyan menuju Mesir dalam malam yang gelap gulita, tiba-tiba ia melihat ada api di lereng Gunung Tur.
Dari akar kata di atas terbentuk kata ista’nasa artinya “membuat hilang rasa keasingan seseorang sehingga orang itu mendengar dan menoleh”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, ḥattā tasta’nisū wa tusallimū ilā ahlihā (an-Nūr/24: 27). Maksudnya: tamu tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah seseorang sebelum ia memberi isyarat dengan ketukan pintu atau lainnya, sehingga tuan rumah “hilang keasingannya, mendengar, dan menoleh kepadanya.”
Terdapat akar kata lain dari ānasa di atas, yaitu anisa-ya’nasu-ans artinya “akrab dan lekat di hati”. Dari kata itu terbentuk kata ins (manusia) sebagai lawan kata “jin”. Al-Insān adalah “manusia”, dinamakan demikian karena seorang kepada orang lain lekat di hati masing-masing, sehingga ia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa ketergantungan kepada orang lain.
2. Al-Buq’ah al-Mubārakah اَلْبُقْعَةُ اَلْمُبَارَكَة ُ (al-Qaṣaṣ/28: 30)
Buq’ah adalah tanah datar yang terbentuk di dalam lembah yang terdapat di antara dua gunung menjadi tempat air mengalir di waktu hujan. Berasal dari kata dasar baqa’a-yabqa’u baq’an artinya “pergi ke lembah”. Buq’ah Mubārakah, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qaṣaṣ/28: 30, adalah sebuah tanah datar di sebelah kanan lembah tempat Musa dipanggil oleh Allah dalam perjalanannya dari Madyan menuju Mesir. Tanah datar lembah itu “diberkahi”, karena tempat itu memperoleh kemuliaan sebagai tempat dipanggilnya Musa untuk menghadap Allah. Tempat itu juga dianggap “suci”, karena Musa diminta untuk menanggalkan sandalnya ketika menghadap Allah di sana (Ṭāhā/20: 12). Tempat persisnya lembah itu sekarang tidak diketahui karena rute perjalanan Musa juga tidak diketahui secara pasti. Menurut aṭ-Ṭabaṭaba’ī, pemanggilan Musa oleh Allah itu tidak mungkin dipahami seperti manusia memanggil sesamanya. Pemanggilan itu mestilah dari balik hijab sesuai penegasan Allah dalam asy-Syūrā/42: 51, yaitu manusia tidak dapat melihat dan mendengar Allah seperti manusia melihat dan mendengar manusia lain.

