v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 29 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 29 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 389 •  Quarter Hizb 39.75 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

۞ فَلَمَّا قَضٰى مُوْسَى الْاَجَلَ وَسَارَ بِاَهْلِهٖٓ اٰنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ نَارًاۗ قَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ

Falammā qaḍā mūsal-ajala wa sāra bi'ahlihī ānasa min jānibiṭ-ṭūri nārā(n), qāla li'ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la‘allī ātīkum minhā bikhabarin au jażwatim minan-nāri la‘allakum taṣṭalūn(a).

Maka, ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan berangkat dengan istrinya,561) dia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini). Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api agar kamu dapat menghangatkan badan (dekat api).”

Makna Surat Al-Qasas Ayat 29
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah Nabi Musa menyetujui untuk menikahi salah seorang perempuan yang ditemuinya di tempat sumber air dengan syarat-syarat yang diajukan ayah perempuan itu, hiduplah ia bersama keluarganya di Madyan. Maka ketika Musa telah menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan itu, yaitu sepuluh tahun lamanya, dan ketika dia berangkat kembali menuju tempat kelahirannya di negeri Mesir bersama dengan keluarganya untuk menemui ibunya dan saudara perempuannya, di tengah perjalanan dia melihat dengan sangat jelas api di lereng gunung dari arah bukit Sinai. Ketika itu dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah di sini, jangan beranjak dari tempat ini, sesungguhnya aku melihat cahaya api di tengah kegelapan. Aku akan mendatangi api itu, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat api itu mengenai arah jalan yang akan kita tempuh, atau membawa sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Musa menunaikan tugasnya selama sepuluh tahun dengan sebaik-baiknya, dia pun pamit kepada mertuanya untuk kembali ke Mesir, yang merupakan kampung halamannya, bersama istrinya. Tentu saja tidak ada alasan bagi mertuanya untuk menahannya karena semua ketentuan yang telah ditetapkan untuk mengawini anaknya sudah dipenuhi Musa. Hanya saja sebagai orang tua, ia tidak akan sampai hati melepaskan anak menantunya begitu saja, tanpa memberikan sekadar bekal di jalan. Mertuanya membekali secukupnya dan memberikan kepadanya beberapa ekor kambing.

Musa lalu berangkat bersama istrinya menempuh jalan yang pernah ditempuhnya dahulu sewaktu dia lari dari Mesir. Di tengah jalan, dia berhenti di suatu tempat untuk melepaskan lelah. Karena malam telah tiba dan keadaan gelap gulita, maka ia mencoba menyalakan api dengan batu. Akan tetapi, rabuknya tidak mau menyala sehingga ia hampir putus asa karena ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dalam gelap gulita itu. Udara pun sangat dingin sehingga dia dan keluarganya tidak akan dapat bertahan lama, tanpa ada api untuk berdiang.

Dalam keadaan demikian, dari jauh dia melihat nyala api di sebelah kanan Gunung Tur. Dia lalu berkata kepada istrinya untuk menunggu di tempatnya karena ia akan pergi ke tempat api itu. Semoga orang-orang di sana dapat memberikan petunjuk kepadanya tentang perjalanan ini atau ia dapat membawa sepotong kayu penyuluh supaya mereka dapat menghangatkan badan dari udara dingin yang tak tertahankan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Ānasa آنَسَ (al-Qaṣaṣ/28: 29)

Kata itu terambil dari kata dasar anisa-ya’nasu/ya’nusu-an as, atau anasa-ya’nisu-ans, yang mengandung makna “lawan liar” berarti “jinak”. Ānasa berarti terjadi antara dua pihak, jinak-menjinakkan, dekat-mendekati, yang diterjemahkan menjadi “melihat” karena sasaran sudah jinak dan dekat dari pemantau. Dalam Al-Qur’an terdapat fa’in ānastum minhum rusydan fadfa’ū ilaihim amwālahum (an-Nisā’/4: 6), artinya “jika kalian melihat kedewasaan pada mereka, maka serahkanlah harta mereka”, yaitu harta anak yatim yang diasuh. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 29 disebutkan ānasa min jānib al-ṭūr nāran (ia melihat api di lereng Gunung Tur). Maksudnya adalah Musa ketika menempuh perjalanan dengan istrinya dari Madyan menuju Mesir dalam malam yang gelap gulita, tiba-tiba ia melihat ada api di lereng Gunung Tur.

Dari akar kata di atas terbentuk kata ista’nasa artinya “membuat hilang rasa keasingan seseorang sehingga orang itu mendengar dan menoleh”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, ḥattā tasta’nisū wa tusallimū ilā ahlihā (an-Nūr/24: 27). Maksudnya: tamu tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah seseorang sebelum ia memberi isyarat dengan ketukan pintu atau lainnya, sehingga tuan rumah “hilang keasingannya, mendengar, dan menoleh kepadanya.”

Terdapat akar kata lain dari ānasa di atas, yaitu anisa-ya’nasu-ans artinya “akrab dan lekat di hati”. Dari kata itu terbentuk kata ins (manusia) sebagai lawan kata “jin”. Al-Insān adalah “manusia”, dinamakan demikian karena seorang kepada orang lain lekat di hati masing-masing, sehingga ia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa ketergantungan kepada orang lain.

2. Al-Buq’ah al-Mubārakah اَلْبُقْعَةُ اَلْمُبَارَكَة ُ (al-Qaṣaṣ/28: 30)

Buq’ah adalah tanah datar yang terbentuk di dalam lembah yang terdapat di antara dua gunung menjadi tempat air mengalir di waktu hujan. Berasal dari kata dasar baqa’a-yabqa’u baq’an artinya “pergi ke lembah”. Buq’ah Mubārakah, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qaṣaṣ/28: 30, adalah sebuah tanah datar di sebelah kanan lembah tempat Musa dipanggil oleh Allah dalam perjalanannya dari Madyan menuju Mesir. Tanah datar lembah itu “diberkahi”, karena tempat itu memperoleh kemuliaan sebagai tempat dipanggilnya Musa untuk menghadap Allah. Tempat itu juga dianggap “suci”, karena Musa diminta untuk menanggalkan sandalnya ketika menghadap Allah di sana (Ṭāhā/20: 12). Tempat persisnya lembah itu sekarang tidak diketahui karena rute perjalanan Musa juga tidak diketahui secara pasti. Menurut aṭ-Ṭabaṭaba’ī, pemanggilan Musa oleh Allah itu tidak mungkin dipahami seperti manusia memanggil sesamanya. Pemanggilan itu mestilah dari balik hijab sesuai penegasan Allah dalam asy-Syūrā/42: 51, yaitu manusia tidak dapat melihat dan mendengar Allah seperti manusia melihat dan mendengar manusia lain.