فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ
Fa waqāhumullāhu syarra żālikal-yaumi wa laqqāhum naḍrataw wa surūrā(n).
Maka, Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu dan memberikan keceriaan dan kegembiraan kepada mereka.
11-12. Sebagai imbalan atas perbuatan baik yang dilakukan seseorang, seperti yang disebut pada ayat di atas, maka Allah melindungi mereka dari kesusahan dan juga keburukan hari itu, dan memberikan kepada mereka aneka macam nikmat yang menimbulkan keceriaan pada wajah mereka dan kegembiraan pada hati mereka. Dan di samping yang telah disebut di atas, Dia memberi juga balasan kepada mereka karena kesabarannya dalam aneka macam situasi, berupa surga dan pakaian sutera.
Dijelaskan juga bahwa sebagai balasan kepada orang-orang abrār, Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka keceriaan wajah dan kegembiraan hati. Tampak pada wajah mereka kegembiraan yang berseri-seri sebagai tanda kepuasan hati karena anugerah Allah yang telah mereka terima. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ ٣٨ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَة ٌ ۚ ٣٩
Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria. (‘Abasa/80: 38-39)
1. Kāfūran كَافُوْرًا (al-Insān/76: 5)
Kāfūr adalah sejenis minyak (damar) yang diperoleh dari pohon tertentu (yaitu sejenis pohon gaharu) yang banyak terdapat di daratan Cina dan Jawa (Asia Tenggara). Minyak ini baru dapat diambil dari pohonnya setelah pohon itu berumur sekitar 200 tahun. Warna minyak ini putih dan baunya harum. Pada ayat ini, yang dimaksud dengan kāfūr adalah keharuman dan warnanya yang bening, dan bukan sebagaimana yang dilihat di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kāfūr pada ayat ini adalah nama dari salah satu mata air yang ada di surga.
2. Qamṭarīran قَمْطَرِيْرًا (al-Insān/76: 10)
Kata qamṭarīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja qamṭara-yuqamṭiru yang artinya berkumpul atau mengikat sesuatu dengan kuat. Seseorang yang mengerutkan dahinya bagaikan mengumpulkan atau mengikat kulit dahinya dengan kuat. Keadaan seperti ini mengisyaratkan bahwa ia sedang menghadapi suatu persoalan yang berat dan sulit, sehingga ia mesti berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Dapat juga hal ini berkaitan dengan sesuatu yang tidak disenangi, sehingga ia perlu mengernyitkan dahi dalam meresponnya. Dari makna demikian, kata tersebut kemudian diartikan sebagai suasana yang sangat sulit.

