اِنَّا نَخَافُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا
Innā nakhāfu mir rabbinā yauman ‘abūsan qamṭarīrā(n).
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.”
Orang-orang yang disebut al-abràr yang selalu berbuat baik juga menegaskan bahwa pemberian tersebut semata karena mengharap rida Allah dan rasa takut akan azab. Seperti yang disebut pada ayat ini. Sungguh, kami takut akan azab Tuhan pada hari ketika orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.”
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang abrār adalah orang yang mengerjakan segala perbuatan kebaikan seperti tersebut di atas karena takut pada azab Allah yang ditimpakan pada suatu hari yang penuh kesulitan. Mereka berbuat sosial membantu orang lain seperti memberi makanan dan lain-lain, adalah dengan harapan agar Tuhan mengasihi dan memelihara mereka dengan kasih sayang-Nya dari siksaan hari Kiamat pada saat manusia datang menemui Tuhan dengan wajah masam karena berbagai macam kesulitan dan ketakutan.
1. Kāfūran كَافُوْرًا (al-Insān/76: 5)
Kāfūr adalah sejenis minyak (damar) yang diperoleh dari pohon tertentu (yaitu sejenis pohon gaharu) yang banyak terdapat di daratan Cina dan Jawa (Asia Tenggara). Minyak ini baru dapat diambil dari pohonnya setelah pohon itu berumur sekitar 200 tahun. Warna minyak ini putih dan baunya harum. Pada ayat ini, yang dimaksud dengan kāfūr adalah keharuman dan warnanya yang bening, dan bukan sebagaimana yang dilihat di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kāfūr pada ayat ini adalah nama dari salah satu mata air yang ada di surga.
2. Qamṭarīran قَمْطَرِيْرًا (al-Insān/76: 10)
Kata qamṭarīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja qamṭara-yuqamṭiru yang artinya berkumpul atau mengikat sesuatu dengan kuat. Seseorang yang mengerutkan dahinya bagaikan mengumpulkan atau mengikat kulit dahinya dengan kuat. Keadaan seperti ini mengisyaratkan bahwa ia sedang menghadapi suatu persoalan yang berat dan sulit, sehingga ia mesti berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Dapat juga hal ini berkaitan dengan sesuatu yang tidak disenangi, sehingga ia perlu mengernyitkan dahi dalam meresponnya. Dari makna demikian, kata tersebut kemudian diartikan sebagai suasana yang sangat sulit.

