وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَدَعْ اَذٰىهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
Wa lā tuṭi‘il-kāfirīna wal-munāfiqīna wa da‘ ażāhum wa tawakkal ‘alallāh(i), wa kafā billāhi wakīlā(n).
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, biarkan (saja) gangguan mereka, dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.
Dan janganlah engkau, wahai Nabi Muhammad, menuruti keinginan orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang menolak dan mengejek ajaran agama yang kaubawa itu. Janganlah engkau hiraukan gangguan mereka, bersabarlah dalam mengemban tugas, dan bertawakallah kepada Allah dalam semua urusanmu. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung dari semua yang engkau takutkan, termasuk dari gangguan mereka.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang apa yang dapat menimbulkan kemudaratan. Allah melarang orang yang beriman untuk menuruti orang kafir dan orang-orang munafik. Mereka juga diperintahkan untuk tidak menghiraukan gangguan orang kafir terhadap berlangsungnya dakwah kepada jalan Allah, dan menghadapi mereka dengan penuh kesabaran dan tawakal. Allah-lah yang harus dipandang sebagai pelindung di dalam melaksanakan tugas dakwah guna semaraknya syiar Islam.
Sirājan munīran سِرَاجًا مُنِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 46)
Ungkapan tersebut terdiri atas dua kata sirāj dan munīr yang artinya “bagaikan matahari yang menerangi.” Ungkapan ini merupakan tasybih (penyerupaan) Nabi Muhammad saw, bahwa beliau digambarkan bagaikan lampu (matahari) yang menerangi alam. Ayat ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa orang yang dapat memberi penerangan kepada orang lain dan mengangkat mereka dari jurang kekejian dan kenistaan ke puncak kesucian dan kesempurnaan, tidak mungkin ia sendiri dalam kegelapan dan kenistaan akhlak. Ia pasti dalam keagungan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (al-Qalam/68: 4).

