v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat Al-Aḥzāb (Golongan Yang Bersekutu)
الاحزاب
Ayat 47 / 73 •  Surat 33 / 114 •  Halaman 424 •  Quarter Hizb 43 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Madaniyah

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ فَضْلًا كَبِيْرًا

Wa basysyiril-mu'minīna bi'anna lahum minallāhi faḍlan kabīrā(n).

Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.

Makna Surat Al-Ahzab Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mantap keimanannya bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah, yakni surga yang penuh kenikmatan (Lihat juga Surah Yunus/10: 26 dan asy-Syu ‘ara’/42: 22).

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī dan Ikrimah telah meriwayatkan sebuah hadis dari al-Ḥasan yang menerangkan bahwa ketika turun ayat al-Fatḥ/48: 2:

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ

Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. (al-Fatḥ/48: 2)

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang diperbuat Allah untukmu, maka apakah yang akan diperbuat Allah untuk kami?” Maka turunlah ayat ini (al-Aḥzāb/33: 47)

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menyam-paikan berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka karunia yang amat besar yang melebihi karunia yang diberikan kepada umat-umat lainnya, karena mereka diberi kemampuan untuk memperbaiki akhlak masyarakat dari berbagai kezaliman kepada keadilan dan kemaslahatan. Mereka juga dapat mengubah wajah umat-umat yang dihadapinya dari sikap membangkang kepada sikap yang tunduk dan patuh demi perbaikan nasibnya di dunia dan di akhirat kelak.

Isi Kandungan Kosakata

Sirājan munīran سِرَاجًا مُنِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 46)

Ungkapan tersebut terdiri atas dua kata sirāj dan munīr yang artinya “bagaikan matahari yang menerangi.” Ungkapan ini merupakan tasybih (penyerupaan) Nabi Muhammad saw, bahwa beliau digambarkan bagaikan lampu (matahari) yang menerangi alam. Ayat ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa orang yang dapat memberi penerangan kepada orang lain dan mengangkat mereka dari jurang kekejian dan kenistaan ke puncak kesucian dan kesempurnaan, tidak mungkin ia sendiri dalam kegelapan dan kenistaan akhlak. Ia pasti dalam keagungan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (al-Qalam/68: 4).