v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 54 - Surat Al-Aḥzāb (Golongan Yang Bersekutu)
الاحزاب
Ayat 54 / 73 •  Surat 33 / 114 •  Halaman 425 •  Quarter Hizb 43.25 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Madaniyah

اِنْ تُبْدُوْا شَيْـًٔا اَوْ تُخْفُوْهُ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

In tubdū syai'an au tukhfūhu fa'innallāha kāna bikulli syai'in ‘alīmā(n).

Jika kamu menyatakan sesuatu atau menyembunyikannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Makna Surat Al-Ahzab Ayat 54
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Jika kamu menyatakan sesuatu, baik ucapan maupun perbuatan, atau menyembunyikannya dalam hatimu yang paling dalam, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sebab turunnya ayat ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ibnu ‘Abbās, bahwa ada seorang yang telah datang kepada sebagian istri-istri Nabi saw yang menjadi anak pamannya, lalu bercakap-cakap dengan istri Nabi secara langsung. Nabi saw menegur hal itu dengan sabdanya, “Janganlah engkau berbuat seperti ini pada kesempatan yang lain.” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak paman saya, dan saya tidak pernah mengatakan sesuatu yang mungkar, dan perempuan itu tidak boleh pula berkata yang tidak baik kepadaku.” Nabi bersabda, “Kami telah mengetahui yang demikian itu. Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, dan tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada aku.” Lalu laki-laki itu pergi sambil berkata, “Siapa yang dapat mencegahku untuk bercakap-cakap dengan anak pamanku; aku pasti akan menikahinya setelah Muhammad wafat.” Maka turunlah ayat hijab ini, dan laki-laki itu merasa menyesal atas ucapan yang telah dikeluarkannya. Untuk menutupi kesalahan dan menebus dosanya, ia mengeluarkan kifarat dengan memerdekakan seorang hamba sahaya, memberi bekal untuk jihad dengan sepuluh ekor unta, dan naik haji dengan berjalan kaki.

Isi Kandungan Kosakata

Musta’nisīn li Ḥadīṡ مُسْتَأْنِسِيْ نَ لِحَدِيْثٍ (al-Aḥzāb/33: 53)

Musta’nisīn li ḥadīṡ artinya asyik mendengarkan atau memperpanjang percakapan. Berasal dari fi’il ista’nasa-yasta’nisu-ist i’nāsan yang berarti mendengarkan. Al-Ins juga berarti orang yang disenangi atau disukai. Sedangkan al-ḥadīṣ artinya percakapan atau pembicaraan. Ungkapan firman Allah pada ayat 53 yaitu: faiżā ṭa’imtum fantasyirū wa lā musta’nisīn li ḥadīṡ (jika kamu telah selesai makan (di rumah Nabi) maka segera keluarlah tanpa memperpanjang percakapan).

Ayat ini menerangkan tentang adab dan sopan santun yang mesti dilakukan orang-orang mukmin di rumah Nabi. Karena Nabi banyak memiliki tugas dan urusan yang mesti diselesaikan, maka orang-orang hendaklah secukupnya saja berada di rumah beliau, dan bergantian dengan orang lain yang juga akan berhubungan dengan Nabi. Dengan demikian, semua dapat berjalan dengan lancar. Tugas-tugas Nabi saw sebagai rasul yaitu pemimpin umat, juga sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, juga tidak kurang pentingnya sebagai kepala rumah tangga. Semua itu perlu diselesaikan dengan baik.