v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 64 - Surat Al-Aḥzāb (Golongan Yang Bersekutu)
الاحزاب
Ayat 64 / 73 •  Surat 33 / 114 •  Halaman 427 •  Quarter Hizb 43.5 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Madaniyah

اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاَعَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًاۙ

Innallāha la‘anal-kāfirīna wa a‘adda lahum sa‘īrā(n).

Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala)

Makna Surat Al-Ahzab Ayat 64
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh, pada hari Kiamat Allah melaknat dan menyiksa orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api neraka yang menyala-nyala.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menerangkan bahwa yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat hanya Allah. Mungkin saja waktu datangnya hari Kiamat sudah dekat, karena setiap yang akan datang memang selalu mendekat dan mungkin dekat. Pepatah Arab mengatakan:

كُلُّ آتٍ قَرِيْبٌ

“Setiap yang akan datang adalah dekat.”

Kemudian Allah akan melaknat dan menjauhkan orang-orang kafir dari kebaikan dan rahmat-Nya. Allah juga menyediakan bagi mereka neraka sa’īr.

Isi Kandungan Kosakata

1. Sa’īran سَعِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 64)

Sa’īr terambil dari kata as-sa’r yang berarti api yang menyala-nyala. Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yang bertanya kepada rasul tentang hari Kiamat dan kedatangannya dengan pertanyaan yang mengandung ejekan dan penolakan untuk memercayai kebenaran hari Kiamat tersebut. Maka Allah jadikan api neraka yang menyala-nyala sebagai ancaman bagi orang-orang kafir yang menolak memercayai hari Kiamat, sebab memercayai hari Kiamat merupakan salah satu dari rukun iman, menolak hari Kiamat berarti menolak keberadaan Allah.

2. Sādatanā سَادَتَنَا (al-Aḥzāb/33: 67)

Jamak dari sādāh, sedangkan sādāh adalah bentuk jamak dari sayyid yang artinya orang-orang yang mempunyai ketinggian derajat sehingga mereka menjadi orang yang dihormati. Ayat ini menggambarkan penyesalan orang-orang kafir dan musyrik ketika menghadapi neraka jahanam kelak di akhirat, di mana mereka mengakui bahwa mereka lebih memilih untuk menaati para pemimpin dan pembesar mereka daripada beriman kepada para rasul, sehingga mereka disesatkan oleh para pembesar mereka sendiri.