خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۚ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا ۚ
Khālidīna fīhā abadā(n), lā yajidūna waliyyaw wa lā naṣīrā(n).
dalam keadaan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak akan memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong.
Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan satu pun pelindung dan penolong yang menyelamatkan mereka dari azab Allah.
Mereka kekal di dalam neraka selama-lamanya, dan tidak menemukan seorang pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah. Mereka juga tidak mendapatkan seorang penolong yang dapat menyelamatkan dari siksaan-Nya.
1. Sa’īran سَعِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 64)
Sa’īr terambil dari kata as-sa’r yang berarti api yang menyala-nyala. Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yang bertanya kepada rasul tentang hari Kiamat dan kedatangannya dengan pertanyaan yang mengandung ejekan dan penolakan untuk memercayai kebenaran hari Kiamat tersebut. Maka Allah jadikan api neraka yang menyala-nyala sebagai ancaman bagi orang-orang kafir yang menolak memercayai hari Kiamat, sebab memercayai hari Kiamat merupakan salah satu dari rukun iman, menolak hari Kiamat berarti menolak keberadaan Allah.
2. Sādatanā سَادَتَنَا (al-Aḥzāb/33: 67)
Jamak dari sādāh, sedangkan sādāh adalah bentuk jamak dari sayyid yang artinya orang-orang yang mempunyai ketinggian derajat sehingga mereka menjadi orang yang dihormati. Ayat ini menggambarkan penyesalan orang-orang kafir dan musyrik ketika menghadapi neraka jahanam kelak di akhirat, di mana mereka mengakui bahwa mereka lebih memilih untuk menaati para pemimpin dan pembesar mereka daripada beriman kepada para rasul, sehingga mereka disesatkan oleh para pembesar mereka sendiri.

