وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا
Wa dā‘iyan ilallāhi bi'iżnihī wa sirājam munīrā(n).
dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta sebagai pelita yang menerangi.
dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, agar manusia meninggalkan kebatilan, dan kami juga mengutusmu sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup manusia.
Nabi juga berperan sebagai juru dakwah agama Allah untuk seluruh umat manusia agar mereka mengakui keesaan dan segala sifat-sifat kesem-purnaan-Nya. Juga bertujuan agar manusia beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas; memberi penerangan laksana sebuah lampu yang terang benderang yang dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan, dan menyinari jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang beriman agar mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Semua tugas Nabi saw itu dilaksanakannya dengan dan perintah izin Allah.
Sirājan munīran سِرَاجًا مُنِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 46)
Ungkapan tersebut terdiri atas dua kata sirāj dan munīr yang artinya “bagaikan matahari yang menerangi.” Ungkapan ini merupakan tasybih (penyerupaan) Nabi Muhammad saw, bahwa beliau digambarkan bagaikan lampu (matahari) yang menerangi alam. Ayat ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa orang yang dapat memberi penerangan kepada orang lain dan mengangkat mereka dari jurang kekejian dan kenistaan ke puncak kesucian dan kesempurnaan, tidak mungkin ia sendiri dalam kegelapan dan kenistaan akhlak. Ia pasti dalam keagungan akhlak, sebagaimana ditegaskan Allah, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (al-Qalam/68: 4).

