v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 72 - Surat Al-Aḥzāb (Golongan Yang Bersekutu)
الاحزاب
Ayat 72 / 73 •  Surat 33 / 114 •  Halaman 427 •  Quarter Hizb 43.5 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Madaniyah

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

Innā ‘araḍnal-amānata ‘alas-samāwāti wal-arḍi fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna minhā wa ḥamalahal-insān(u), innahū kāna ẓalūman jahūlā(n).

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.

Makna Surat Al-Ahzab Ayat 72
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah meminta orang-orang beriman untuk menjaga ketakwaan, Allah lalu menjelaskan bahwa salah satu wujud takwa adalah menjaga amanah. Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat, yakni tugas-tugas keagamaan, kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul tanggung jawab amanat itu dan mereka khawatir tidak akan mampu melaksanakannya, lalu Kami menawarkan amanat itu kepada manusia, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim karena menyatakan sanggup memikul amanat tetapi secara sengaja menyia-nyiakannya, dan sangat bodoh karena menerima amanat tetapi sering lengah dan lupa menjalankan atau memenuhinya. “Amanat” kalau diartikan secara sempit adalah kewajiban-kewajiban agama. Namun, secara luas ia bisa dipahami sebagai segala sesuatu yang diserahkan kepada seseorang untuk dipelihara dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya serta berusaha maksimal untuk tidak menyia-nyiakannya. Apa pun bentuk amanat itu, ia harus dipertanggungjawabkan oleh penerima kepada pemberi amanat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sesungguhnya Allah telah menawarkan tugas-tugas keagamaan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Karena ketiganya tidak mempunyai persiapan untuk menerima amanat yang berat itu, maka semuanya enggan untuk memikul amanat yang ditawarkan Allah itu.

Kemudian amanat untuk melaksanakan tugas-tugas keagamaan itu ditawarkan kepada manusia dan mereka menerimanya dengan konsekuensi barang siapa yang melaksanakan itu akan diberi pahala dan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa yang mengkhianatinya akan disiksa dan dimasukkan ke dalam api neraka. Walaupun bentuk badannya lebih kecil dibandingkan dengan ketiga makhluk yang lain (langit, bumi, dan gunung-gunung), manusia berani menerima amanat tersebut karena manusia mempunyai potensi. Tetapi, karena pada diri manusia terdapat ambisi dan syahwat yang sering mengelabui mata dan menutup pandangan hatinya, Allah menyifatinya dengan amat zalim dan bodoh karena kurang memikirkan akibat-akibat dari penerimaan amanat itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fa’abaina فَأَبَيْنَ (al-Aḥzāb/33: 72)

Kata abaina terambil dari fi’il māḍī abā yang secara kebahasaan berarti membangkang, menolak, enggan, dan sejenisnya. Dalam konteks ayat di atas, kata ini ditampilkan untuk menggambarkan penolakan atau keengganan yang dilakukan oleh langit, bumi, dan gunung-gunung ketika Allah menawari mereka untuk mengemban amanat, yaitu tugas-tugas keagamaan. Penolakan atau keengganan ini didasari adanya kekhawatiran bahwa mereka kelak mengkhianatinya. Karena mereka tidak mau, maka amanat itu ditawarkan kepada manusia, dan manusia mau menerimanya. Padahal, sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan bodoh.

2. Asyfaqna أشْفَقْنَ (al-Aḥzāb/33: 72)

Kata asyfaqna secara kebahasaan berarti khawatir berkhianat. Dalam konteks ayat di atas, kata itu ditujukan kepada langit, bumi dan gunung-gunung, yang menolak atau enggan menerima amanat tugas-tugas keagamaan oleh Allah. Mereka tidak mau diberi amanat itu karena khawatir akan berkhianat.