لِّيُعَذِّبَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ وَيَتُوْبَ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ
Liyu‘ażżiballāhul-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-musyrikīna wal-musyrikāti wa yatūballāhu ‘alal-mu'minīna wal-mu'mināt(i), wa kānallāhu gafūrar raḥīmā(n).
Dengan demikian, Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan. Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Demikianlah kezaliman dan kebodohan manusia, sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, karena mereka tidak menjalankan amanat; dan bagi mereka yang bertobat, Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada semua hamba yang bertobat.[]
Allah lalu menerangkan bahwa akibat dari penerimaan amanat ini ialah Dia mengazab orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, baik laki-laki maupun perempuan, bila mereka mengabaikan pelaksanaan amanat yang telah dipikulnya. Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan yang taat melaksanakan amanat itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
1. Fa’abaina فَأَبَيْنَ (al-Aḥzāb/33: 72)
Kata abaina terambil dari fi’il māḍī abā yang secara kebahasaan berarti membangkang, menolak, enggan, dan sejenisnya. Dalam konteks ayat di atas, kata ini ditampilkan untuk menggambarkan penolakan atau keengganan yang dilakukan oleh langit, bumi, dan gunung-gunung ketika Allah menawari mereka untuk mengemban amanat, yaitu tugas-tugas keagamaan. Penolakan atau keengganan ini didasari adanya kekhawatiran bahwa mereka kelak mengkhianatinya. Karena mereka tidak mau, maka amanat itu ditawarkan kepada manusia, dan manusia mau menerimanya. Padahal, sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan bodoh.
2. Asyfaqna أشْفَقْنَ (al-Aḥzāb/33: 72)
Kata asyfaqna secara kebahasaan berarti khawatir berkhianat. Dalam konteks ayat di atas, kata itu ditujukan kepada langit, bumi dan gunung-gunung, yang menolak atau enggan menerima amanat tugas-tugas keagamaan oleh Allah. Mereka tidak mau diberi amanat itu karena khawatir akan berkhianat.

