يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا ۗ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā takūnū kal-lażīna āżau mūsā fa barra'ahullāhu mimmā qālū, wa kāna ‘indallāhi wajīhā(n).
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang (dari Bani Israil) yang menyakiti Musa, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.
Usai menyebutkan penyesalan orang-orang kafir ketika merasakan siksa neraka, Allah pada ayat-ayat berikut beralih menjelaskan larangan menyakiti orang lain dengan tuduhan palsu dan perkataan bohong. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang dari Bani Israil yang menyakiti hati Nabi Musa dengan berkata dusta. Nabi Musa sangat jauh dari tuduhan dusta tersebut, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.
Allah melarang kaum mukminin agar tidak berlaku seperti segolongan Bani Israil yang menyakiti Nabi Musa. Allah membersihkan beliau dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan kepadanya. Beliau adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di sisi Allah. Di dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana caranya mereka menyakiti Nabi Musa itu.
Dalam suatu riwayat tentang meninggalnya Harun, seperti diriwayatkan Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī dari Ibnu ‘Abbās dari Ali bin Abī Ṭālib bahwa beliau berkata, “Ketika Nabi Musa dan Harun naik ke gunung, Nabi Harun kemudian wafat. Orang-orang Bani Israil lalu marah kepada Nabi Musa, ‘Kamu telah membunuh Harun, padahal beliau orang yang lebih kami sukai daripada engkau’.”
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَسَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ذَاتَ يَوْمٍ قَسْمًا فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: إِنَّ هٰذِهِ الْقِسْمَةَ مَا أُرِيْدَ بِهَا وَجْهُ اللّٰهِ، فَأَحْمَرَّ وَجْهُهُ ثُمَّ قَالَ: رَحْمَةُ اللّٰهِ عَلَى مُوْسَى فَقَدْ أُوْذِىَ بَأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ. (رواه البخاري و مسلم)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ūd bahwa Rasulullah saw pada suatu hari membagi-bagikan harta ganimah kepada sahabatnya, lalu ada seorang laki-laki dari kaum Ansar berkata bahwa pembagian itu tidak dimaksud untuk memperoleh keridaan Allah. Mendengar ucapan itu, Nabi saw tersinggung sampai merah wajahnya seraya berkata, “Semoga Allah merahmati Musa yang pernah disakiti orang lebih dari ini, tetapi beliau tetap berlaku sabar.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
. Qaulan sadīdan قَوْلًا سَدِيْدًا (al-Aḥzāb/33: 70)
Qaulan sadīdan terdiri dari kata qaul yang berarti perkataan atau pernyataan, dan sadīd yang berarti tepat atau benar. Dalam konteks ayat di atas, kata qaul sadīd ditujukan kepada orang-orang yang beriman, supaya mereka senantiasa berkata benar atau tepat dalam situasi dan kondisi apa pun. Karena dengannya, seperti dijelaskan pada ayat selanjutnya (al-Ahzab/33: 71), Allah akan memperbaiki perbuatan dan mengampuni dosa-dosa mereka.
2. Fauzan ‘Aẓīman فَوْزًا عَظِيْمًا (al-Aḥzāb/33: 71)
Fauzan ‘aẓīman terdiri dari kata fauz yang berarti kemenangan, kebahagiaan, kesuksesan, dan sejenisnya; dan ‘aẓīm yang berarti besar atau agung. Dalam konteks ayat di atas, kalimat fauz ‘aẓīm yang berarti kemenangan yang besar atau agung ini ditujukan kepada orang-orang yang secara tulus menaati Allah dan Rasul-Nya. Dengan menaati keduanya, mereka akan meraih kemenangan yang besar atau kemenangan sejati. Kemenangan ini akan mereka dapatkan baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia sebagai orang yang mulia baik di sisi Allah maupun manusia, dan di akhirat sebagai orang yang bahagia mendapat kenikmatan surga.

