وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ
Wa lasaufa yu‘ṭīka rabbuka fa tarḍā.
Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya yang berlimpah kepadamu, baik dalam urusan dunia seperti kesuksesan menyampaikan risalah, maupun di akhirat dengan pahala, hak memberi syafaat, dan sebagainya. Dia akan mencurahkan karunia kepadamu sehingga engkau menjadi puas karenanya.
Dalam ayat ini, Allah menyampaikan berita gembira kepada Nabi Muhammad, bahwa Dia akan terus-menerus melimpahkan anugerah-Nya kepada beliau, sehingga beliau menjadi senang dan bahagia. Di antara pemberian-Nya itu ialah turunnya wahyu terus-menerus setelah itu sebagai petunjuk bagi Nabi saw dan umatnya untuk mendapat kebahagiaan hidup di dunia dan hari akhirat. Dia akan memenangkan agama yang dibawa Nabi Muhammad atas seluruh agama lainnya dan Dia akan mengangkat kedudukannya di atas kedudukan manusia seluruhnya.
1. Sajā سَجَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 2)
Kata sajā merupakan bentuk fi‘il māḍī yang memiliki arti tenang, tidak bergerak. Sajā al-baḥr berarti laut itu ombaknya tenang, tidak berbahaya. Mata yang sayu dan sendu disebut dengan sājiyah. Unta yang telah diperah susunya dan duduk dengan tenang dinamai sajwā. Tasjiyah adalah menutup jenazah dengan kain kafan. Dari beberapa pengertian di atas, kata sajā mengandung makna ketenangan dan kenyamanan. Kata ini hanya terulang sekali yaitu dalam ayat ini.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sumpah-Nya yaitu demi waktu Ḍuḥā dan demi malam apabila telah sunyi. Kata al-lail adalah waktu antara tenggelam matahari sampai terbit fajar. Keadaan malam dari sisi kegelapannya berbeda dari satu saat ke saat yang lain. Untuk menggambarkan keadaan malam ini, maka Allah mengungkapkannya dengan sajā yang berarti hening, tenang, tidak ada suara bising atau gaduh. Inilah sifat malam yang menjadi waktu istirahat manusia setelah merasa lelah bekerja pada siang hari.
2. Qalā قَلَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 3)
Kata qalā terambil dari kata al-qa-w (dengan wāu) yang berarti pelemparan. Seseorang atau sesuatu yang menjadi objek penderita dari kata tersebut (yang dilemparkan), seakan-akan dilempar keluar dari hati akibat kebencian si pelempar terhadap yang bersangkutan. Qalatin-nāqah birākibihā artinya unta itu melemparkan penumpangnya. Dari sini kata tersebut diartikan sebagai kebencian yang telah mencapai puncaknya. Sebagian mengatakan berasal dari kata al-qalyu (dengan yā’) yang berarti menggoreng atau memasak. Dari dua pengertian di atas, makna pertama lebih cocok yaitu menggambarkan kebencian yang amat sangat atau kebencian yang sudah mencapai tingkat akumulasinya. Lafal ini hanya ditemukan dua kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini dan Surah asy-Syu‘arā’/26: 168 (Innī li‘amalikum minal-qālīn) yang berbicara tentang ajakan Nabi Lut kepada kaumnya untuk meninggalkan kebiasaan yang sangat dibenci yaitu perilaku homoseksual. Tidak disebutkannya objek dalam ayat ini menunjukkan bahwa tidak hanya Muhammad yang tidak dibenci oleh Allah, tetapi juga kaumnya dan Dia tidak membenci dengan kebencian yang amat sangat kepada siapa pun.

