v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat Aḍ-Ḍuḥā (Duha)
الضّحى
Ayat 6 / 11 •  Surat 93 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.25 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

Alam yajidka yatīman fa āwā.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu);

Makna Surat Ad-Duha Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim ketika kedua orang tuamu wafat, lalu Dia melindungimu dalam asuhan kakek dan pamanmu? Ayah Nabi wafat ketika beliau dalam kandungan dan ibunya wafat ketika beliau berumur 6 tahun. Allah melindungi Nabi dalam asuhan kakeknya, Abdul Muttalib, sampai usia 8 tahun, dilanjutkan oleh pamannya, Abu Talib, hingga sang paman wafat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan nikmat yang pernah diterima Nabi Muhammad dengan mengatakan, “Bukankah engkau hai Muhammad seorang anak yatim, tidak mempunyai ayah yang bertanggung jawab atas pendidikanmu, menanggulangi kepentingan serta membimbingmu, tetapi Aku telah menjaga, melindungi, dan membimbingmu serta menjauhkanmu dari dosa-dosa perilaku orang-orang Jahiliah dan keburukan mereka, sehingga engkau memperoleh julukan ’manusia sempurna’.”

Nabi saw hidup dalam keadaan yatim karena ayahnya meninggal dunia sedangkan ia masih dalam kandungan ibunya. Ketika lahir, Allah memelihara Muhammad saw dengan cara menjadikan kakeknya, Abdul Muṭṭalib, mengasihi dan menyayanginya. Nabi Muhammad berada dalam asuhan dan bimbingannya sampai Abdul Muṭṭalib wafat, sedang umur Nabi ketika itu delapan tahun. Dengan meninggalnya Abdul Muṭṭalib, Nabi Muhammad menjadi tanggungan paman beliau, Abū Ṭālib, berdasarkan wasiat dari Abdul Muṭṭalib. Abū Ṭālib telah mengerahkan semua perhatiannya untuk mengasuh Nabi saw, sehingga beliau meningkat dewasa dan diangkat menjadi rasul. Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul, orang-orang Quraisy memusuhi dan menyakitinya, tetapi Abū Ṭālib terus membelanya dari semua ancaman orang musyrik hingga Abū Ṭālib wafat.

Dengan wafatnya Abū Ṭālib, bangsa Quraisy mendapat peluang untuk menyakiti Nabi dengan perantaraan orang-orang jahat di kalangan mereka yang menyebabkan beliau terpaksa hijrah.

Betapa hebatnya penggemblengan Allah dan asuhan-Nya terhadap Nabi Muhammad. Biasanya keyatiman seorang anak menjadi sebab kehancuran akhlaknya karena tidak ada pengasuh dan pembimbing yang bertanggung jawab. Apalagi suasana dan sikap penduduk Mekah lebih dari cukup untuk menyesatkan Nabi saw. akan tetapi, perlindungan Allah yang sangat rapi dapat mencegah beliau menemani mereka. Dengan demikian, jadilah beliau seorang pemuda yang sangat jujur, terpercaya, tidak pernah berdusta, dan tidak pernah berlumur dengan dosa orang-orang Jahiliah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Āwā اٰوَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 6)

Kata Āwā berasal dari kata awā-ya’wī-uwiyyan wa ma’wan yang pada mulanya berarti kembali ke rumah atau tempat tinggal untuk berlindung. Dalam Surah al-Kahf diceritakan tentang sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke dalam gua (Iż awal-fityatu ilal-kahf). Dari sini, kata tersebut dipahami dan digunakan oleh Al-Qur’an dalam arti perlindungan yang melahirkan rasa aman dan ketenteraman, baik sumbernya adalah Allah maupun dari makhluk seperti manusia atau lainnya. Maksud ayat ini adalah perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad saat beliau ditinggal oleh bapaknya (Bukankah Dia mendapatimu seorang yatim, lalu Dia melindungimu?) Saat Abdullah wafat, Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan ibunya. Pada usia enam tahun, ibunya menyusul dan dua tahun kemudian kakeknya yang mengasuh pun meninggal. Maka jadilah Muhammad seorang anak yatim. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan perlindungan sehingga keyatimannya tidak berpengaruh pada perkembangan jiwa dan kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau menjadi manusia terbesar dan berpengaruh sepanjang sejarah. Inilah yang dimaksud dengan perlindungan Allah terhadap Muhammad.

2. Ḍāllan ضَالًّا (aḍ-Ḍuḥā/93: 7)

Kata ḍāll terambil dari kata ḍalla-yaḍillu yang berarti tersesat, kehilangan jalan, atau bingung tidak mengetahui arah yang dituju. Antonimnya adalah hidāyah. Dari sini lahir makna binasa, terkubur, sesat dari jalan kebaikan. Ḍalāl diartikan dengan setiap penyimpangan dari aturan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sedikit penyimpangannya ataupun banyak. Untuk itu, kata ḍalāl kadang dinisbahkan kepada para nabi seperti dalam ayat ini atau Surah Yūsuf/12: 95: (Perkataan anak-anak Yakub kepada ayahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”). Kata ini juga digunakan untuk mengungkapkan kesesatan orang-orang kafir dan penggunaannya lebih banyak. Tentunya kandungan ḍalāl antara keduanya sangat jauh berbeda. Al-Asfahānī mengungkapkan ada dua macam kesesatan, yaitu kesesatan dalam ilmu teori seperti kesesatan dalam mengetahui Allah dan kesesatan dalam ilmu terapan seperti sesat dalam mengetahui hukum-hukum syariat.

Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada Nabi Muhammad yaitu di saat dia sedang bingung, maka Dialah yang memberikan petunjuk. Ḍāll di sini tidak bisa diartikan dengan kesesatan yang dialami orang-orang kafir atau penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Allah, karena Nabi adalah ma‘ṣūm (terpelihara dari dosa). Tetapi seperti yang dijelaskan dalam Surah asy-Syūrā/42: 52, ḍāll di sini berkaitan dengan kisah kebingungan Muhammad saat melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan. Ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak memuaskan beliau sehingga membuatnya berada dalam kebingungan. Oleh karena itu, Muhammad pergi ke Gua Hira untuk ber-taḥannuṡ mencari jalan keluar dari kebingungan tersebut. Pada saat itu, Allah melalui Malaikat Jibril mendatanginya membawa petunjuk (hidayah) kebenaran.