v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat Aḍ-Ḍuḥā (Duha)
الضّحى
Ayat 4 / 11 •  Surat 93 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.25 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

Wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā.

Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).

Makna Surat Ad-Duha Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Akhirat beserta pahala yang Allah sediakan untukmu itu lebih baik daripada dunia ini. Kenikmatan akhirat bersifat abadi, sedangkan kehidupan dunia hanya sementara.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan sesuatu yang melapangkan dada Nabi saw dan menenteramkan jiwanya, bahwa keadaan Nabi dalam kehidupannya di hari-hari mendatang akan lebih baik dibandingkan dengan hari-hari yang telah lalu. Kebesarannya akan bertambah dan namanya akan lebih dikenal. Allah akan selalu membimbingnya untuk mencapai kemuliaan dan untuk menuju kepada kebesaran.

Seakan-akan Allah mengatakan kepada Rasul-Nya, “Apakah engkau kira bahwa Aku akan meninggalkanmu? Bahkan kedudukanmu di sisi-Ku sekarang lebih kukuh dan lebih dekat dari masa yang sudah-sudah.”

Janji Allah kepada Nabi Muhammad terus terbukti karena sejak itu nama Nabi saw semakin terkenal, kedudukannya semakin bertambah kuat, sehingga mencapai tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Allah telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai rahmat, petunjuk, dan cahaya untuk seluruh alam dan seluruh hamba-Nya. Allah menjadikan cinta kepada Nabi Muhammad termasuk cinta kepada-Nya juga; mengikuti Nabi dan mematuhinya adalah jalan untuk memperoleh nikmat-nikmat-Nya, serta menjadikan umat Nabi sebagai saksi-saksi untuk manusia seluruhnya. Nabi saw sendiri telah menyiarkan agama Allah sesuai dengan kehendak-Nya sehingga sampai ke pelosok-pelosok dunia.

Ini adalah suatu kebesaran yang tiada bandingnya, suatu keunggulan yang tiada taranya, dan suatu kemuliaan yang tidak ada yang dapat mengimbanginya. Semua itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Sajā سَجَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 2)

Kata sajā merupakan bentuk fi‘il māḍī yang memiliki arti tenang, tidak bergerak. Sajā al-baḥr berarti laut itu ombaknya tenang, tidak berbahaya. Mata yang sayu dan sendu disebut dengan sājiyah. Unta yang telah diperah susunya dan duduk dengan tenang dinamai sajwā. Tasjiyah adalah menutup jenazah dengan kain kafan. Dari beberapa pengertian di atas, kata sajā mengandung makna ketenangan dan kenyamanan. Kata ini hanya terulang sekali yaitu dalam ayat ini.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sumpah-Nya yaitu demi waktu Ḍuḥā dan demi malam apabila telah sunyi. Kata al-lail adalah waktu antara tenggelam matahari sampai terbit fajar. Keadaan malam dari sisi kegelapannya berbeda dari satu saat ke saat yang lain. Untuk menggambarkan keadaan malam ini, maka Allah mengungkapkannya dengan sajā yang berarti hening, tenang, tidak ada suara bising atau gaduh. Inilah sifat malam yang menjadi waktu istirahat manusia setelah merasa lelah bekerja pada siang hari.

2. Qalā قَلَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 3)

Kata qalā terambil dari kata al-qa-w (dengan wāu) yang berarti pelemparan. Seseorang atau sesuatu yang menjadi objek penderita dari kata tersebut (yang dilemparkan), seakan-akan dilempar keluar dari hati akibat kebencian si pelempar terhadap yang bersangkutan. Qalatin-nāqah birākibihā artinya unta itu melemparkan penumpangnya. Dari sini kata tersebut diartikan sebagai kebencian yang telah mencapai puncaknya. Sebagian mengatakan berasal dari kata al-qalyu (dengan yā’) yang berarti menggoreng atau memasak. Dari dua pengertian di atas, makna pertama lebih cocok yaitu menggambarkan kebencian yang amat sangat atau kebencian yang sudah mencapai tingkat akumulasinya. Lafal ini hanya ditemukan dua kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini dan Surah asy-Syu‘arā’/26: 168 (Innī li‘amalikum minal-qālīn) yang berbicara tentang ajakan Nabi Lut kepada kaumnya untuk meninggalkan kebiasaan yang sangat dibenci yaitu perilaku homoseksual. Tidak disebutkannya objek dalam ayat ini menunjukkan bahwa tidak hanya Muhammad yang tidak dibenci oleh Allah, tetapi juga kaumnya dan Dia tidak membenci dengan kebencian yang amat sangat kepada siapa pun.