v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 10 - Surat Aḍ-Ḍuḥā (Duha)
الضّحى
Ayat 10 / 11 •  Surat 93 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.25 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ

Wa ammas-sā'ila falā tanhar.

Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.

Makna Surat Ad-Duha Ayat 10
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan berbuat baiklah terhadap orang yang meminta-minta, baik meminta ilmu pengetahuan atau harta, dan janganlah engkau menghardiknya. Berilah mereka apa yang engkau mampu atau tolaklah dengan halus dan ramah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar orang-orang yang meminta sesuatu kepadanya jangan ditolak dengan kasar dan dibentak, malah sebaliknya diberi sesuatu atau ditolak secara halus. Ada pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata as-sā'il adalah orang yang memohon petunjuk, maka hendaknya pemohon ini dilayani dengan lemah lembut sambil memenuhi permohonannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Āwā اٰوَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 6)

Kata Āwā berasal dari kata awā-ya’wī-uwiyyan wa ma’wan yang pada mulanya berarti kembali ke rumah atau tempat tinggal untuk berlindung. Dalam Surah al-Kahf diceritakan tentang sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke dalam gua (Iż awal-fityatu ilal-kahf). Dari sini, kata tersebut dipahami dan digunakan oleh Al-Qur’an dalam arti perlindungan yang melahirkan rasa aman dan ketenteraman, baik sumbernya adalah Allah maupun dari makhluk seperti manusia atau lainnya. Maksud ayat ini adalah perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad saat beliau ditinggal oleh bapaknya (Bukankah Dia mendapatimu seorang yatim, lalu Dia melindungimu?) Saat Abdullah wafat, Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan ibunya. Pada usia enam tahun, ibunya menyusul dan dua tahun kemudian kakeknya yang mengasuh pun meninggal. Maka jadilah Muhammad seorang anak yatim. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan perlindungan sehingga keyatimannya tidak berpengaruh pada perkembangan jiwa dan kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau menjadi manusia terbesar dan berpengaruh sepanjang sejarah. Inilah yang dimaksud dengan perlindungan Allah terhadap Muhammad.

2. Ḍāllan ضَالًّا (aḍ-Ḍuḥā/93: 7)

Kata ḍāll terambil dari kata ḍalla-yaḍillu yang berarti tersesat, kehilangan jalan, atau bingung tidak mengetahui arah yang dituju. Antonimnya adalah hidāyah. Dari sini lahir makna binasa, terkubur, sesat dari jalan kebaikan. Ḍalāl diartikan dengan setiap penyimpangan dari aturan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sedikit penyimpangannya ataupun banyak. Untuk itu, kata ḍalāl kadang dinisbahkan kepada para nabi seperti dalam ayat ini atau Surah Yūsuf/12: 95: (Perkataan anak-anak Yakub kepada ayahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”). Kata ini juga digunakan untuk mengungkapkan kesesatan orang-orang kafir dan penggunaannya lebih banyak. Tentunya kandungan ḍalāl antara keduanya sangat jauh berbeda. Al-Asfahānī mengungkapkan ada dua macam kesesatan, yaitu kesesatan dalam ilmu teori seperti kesesatan dalam mengetahui Allah dan kesesatan dalam ilmu terapan seperti sesat dalam mengetahui hukum-hukum syariat.

Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada Nabi Muhammad yaitu di saat dia sedang bingung, maka Dialah yang memberikan petunjuk. Ḍāll di sini tidak bisa diartikan dengan kesesatan yang dialami orang-orang kafir atau penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Allah, karena Nabi adalah ma‘ṣūm (terpelihara dari dosa). Tetapi seperti yang dijelaskan dalam Surah asy-Syūrā/42: 52, ḍāll di sini berkaitan dengan kisah kebingungan Muhammad saat melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan. Ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak memuaskan beliau sehingga membuatnya berada dalam kebingungan. Oleh karena itu, Muhammad pergi ke Gua Hira untuk ber-taḥannuṡ mencari jalan keluar dari kebingungan tersebut. Pada saat itu, Allah melalui Malaikat Jibril mendatanginya membawa petunjuk (hidayah) kebenaran.