v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 11 - Surat Aḍ-Ḍuḥā (Duha)
الضّحى
Ayat 11 / 11 •  Surat 93 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.25 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ

Wa ammā bini‘mati rabbika fa ḥaddiṡ.

Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).

Makna Surat Ad-Duha Ayat 11
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan dengan dibarengi rasa bersyukur. Allah telah memberimu nikmat yang tiada tara, seperti nikmat kenabian dan turunnya Al-Qur’an kepadamu. Sampaikan dan perlihatkanlah nikmat-nikmat Allah itu kepada orang lain sebagai bentuk rasa syukurmu kepada-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi kepada Nabi Muhammad agar memperbanyak pemberiannya kepada orang-orang fakir dan miskin serta mensyukuri, menyebut, dan mengingat nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Menyebut-nyebut nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita bukanlah untuk membangga-banggakan diri, tetapi untuk mensyukuri dan mengharapkan orang lain mensyukuri pula nikmat yang telah diperolehnya. Dalam sebuah hadis, Nabi saw mengatakan:

لاَ يَشْكُرُ اللّٰهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ. (رواه أبو داود والترمذي عن أبي هريرة)

Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia tidak mensyukuri Allah. (Riwayat Abū Dāwud dan at-Tirmiżī dari Abū Hurairah)

Kebiasaan orang-orang kikir sering menyembunyikan harta kekayaannya untuk menjadi alasan tidak bersedekah, dan mereka selalu memperdengarkan kekurangan. Sebaliknya, orang-orang dermawan senantiasa menampakkan pemberian dan pengorbanan mereka dari harta kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka dengan menyatakan syukur dan terima kasih kepada Allah atas limpahan karunia-Nya itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Āwā اٰوَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 6)

Kata Āwā berasal dari kata awā-ya’wī-uwiyyan wa ma’wan yang pada mulanya berarti kembali ke rumah atau tempat tinggal untuk berlindung. Dalam Surah al-Kahf diceritakan tentang sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke dalam gua (Iż awal-fityatu ilal-kahf). Dari sini, kata tersebut dipahami dan digunakan oleh Al-Qur’an dalam arti perlindungan yang melahirkan rasa aman dan ketenteraman, baik sumbernya adalah Allah maupun dari makhluk seperti manusia atau lainnya. Maksud ayat ini adalah perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad saat beliau ditinggal oleh bapaknya (Bukankah Dia mendapatimu seorang yatim, lalu Dia melindungimu?) Saat Abdullah wafat, Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan ibunya. Pada usia enam tahun, ibunya menyusul dan dua tahun kemudian kakeknya yang mengasuh pun meninggal. Maka jadilah Muhammad seorang anak yatim. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan perlindungan sehingga keyatimannya tidak berpengaruh pada perkembangan jiwa dan kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau menjadi manusia terbesar dan berpengaruh sepanjang sejarah. Inilah yang dimaksud dengan perlindungan Allah terhadap Muhammad.

2. Ḍāllan ضَالًّا (aḍ-Ḍuḥā/93: 7)

Kata ḍāll terambil dari kata ḍalla-yaḍillu yang berarti tersesat, kehilangan jalan, atau bingung tidak mengetahui arah yang dituju. Antonimnya adalah hidāyah. Dari sini lahir makna binasa, terkubur, sesat dari jalan kebaikan. Ḍalāl diartikan dengan setiap penyimpangan dari aturan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sedikit penyimpangannya ataupun banyak. Untuk itu, kata ḍalāl kadang dinisbahkan kepada para nabi seperti dalam ayat ini atau Surah Yūsuf/12: 95: (Perkataan anak-anak Yakub kepada ayahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”). Kata ini juga digunakan untuk mengungkapkan kesesatan orang-orang kafir dan penggunaannya lebih banyak. Tentunya kandungan ḍalāl antara keduanya sangat jauh berbeda. Al-Asfahānī mengungkapkan ada dua macam kesesatan, yaitu kesesatan dalam ilmu teori seperti kesesatan dalam mengetahui Allah dan kesesatan dalam ilmu terapan seperti sesat dalam mengetahui hukum-hukum syariat.

Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada Nabi Muhammad yaitu di saat dia sedang bingung, maka Dialah yang memberikan petunjuk. Ḍāll di sini tidak bisa diartikan dengan kesesatan yang dialami orang-orang kafir atau penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Allah, karena Nabi adalah ma‘ṣūm (terpelihara dari dosa). Tetapi seperti yang dijelaskan dalam Surah asy-Syūrā/42: 52, ḍāll di sini berkaitan dengan kisah kebingungan Muhammad saat melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan. Ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak memuaskan beliau sehingga membuatnya berada dalam kebingungan. Oleh karena itu, Muhammad pergi ke Gua Hira untuk ber-taḥannuṡ mencari jalan keluar dari kebingungan tersebut. Pada saat itu, Allah melalui Malaikat Jibril mendatanginya membawa petunjuk (hidayah) kebenaran.