فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ
Fa ammal-yatīma falā taqhar.
Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
Dengan karunia Allah yang demikian agung itu, maka berbuat baiklah terhadap anak yatim dan janganlah engkau berlaku sewenang-wenang kepadanya, seperti mengambil hartanya, menghardiknya, dan menyakiti hatinya.
Sesudah menyatakan dalam ayat-ayat terdahulu tentang bermacam-macam nikmat yang diberikan kepada Nabi Muhammad, maka pada ayat ini, Allah meminta kepada Nabi-Nya agar mensyukuri nikmat-nikmat tersebut, serta tidak menghina anak-anak yatim dan memperkosa haknya.
Sebaliknya, Nabi Muhammad diminta mendidik mereka dengan adab dan sopan-santun, serta menanamkan akhlak yang mulia dalam jiwa mereka, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang berguna, tidak menjadi bibit kejahatan yang merusak orang-orang yang bergaul dengannya. Nabi Muhammad bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَأَشارَ بِأُصْبُعَيْهِ يَعنِي الشَّبابَةَ وَالوُسْطَى (رواه الترمذي عن سهل بن سعد)
Aku (kedudukanku) dan orang yang mengasuh anak yatim di surga (sangat dekat), seperti dua ini (dua jari, yaitu telunjuk dan jari tengah).(Riwayat at-Tirmiżī dari Sahl bin Sa‘ad)
Barang siapa yang telah merasa kepahitan hidup dalam serba kekurangan maka selayaknya ia dapat merasakan kepahitan itu pada orang lain. Allah telah menghindarkan Nabi Muhammad dari kesengsaraan dan kehinaan, maka selayaknya Nabi memuliakan semua anak yatim sebagai tanda mensyukuri nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.
1. Āwā اٰوَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 6)
Kata Āwā berasal dari kata awā-ya’wī-uwiyyan wa ma’wan yang pada mulanya berarti kembali ke rumah atau tempat tinggal untuk berlindung. Dalam Surah al-Kahf diceritakan tentang sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke dalam gua (Iż awal-fityatu ilal-kahf). Dari sini, kata tersebut dipahami dan digunakan oleh Al-Qur’an dalam arti perlindungan yang melahirkan rasa aman dan ketenteraman, baik sumbernya adalah Allah maupun dari makhluk seperti manusia atau lainnya. Maksud ayat ini adalah perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad saat beliau ditinggal oleh bapaknya (Bukankah Dia mendapatimu seorang yatim, lalu Dia melindungimu?) Saat Abdullah wafat, Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan ibunya. Pada usia enam tahun, ibunya menyusul dan dua tahun kemudian kakeknya yang mengasuh pun meninggal. Maka jadilah Muhammad seorang anak yatim. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan perlindungan sehingga keyatimannya tidak berpengaruh pada perkembangan jiwa dan kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau menjadi manusia terbesar dan berpengaruh sepanjang sejarah. Inilah yang dimaksud dengan perlindungan Allah terhadap Muhammad.
2. Ḍāllan ضَالًّا (aḍ-Ḍuḥā/93: 7)
Kata ḍāll terambil dari kata ḍalla-yaḍillu yang berarti tersesat, kehilangan jalan, atau bingung tidak mengetahui arah yang dituju. Antonimnya adalah hidāyah. Dari sini lahir makna binasa, terkubur, sesat dari jalan kebaikan. Ḍalāl diartikan dengan setiap penyimpangan dari aturan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sedikit penyimpangannya ataupun banyak. Untuk itu, kata ḍalāl kadang dinisbahkan kepada para nabi seperti dalam ayat ini atau Surah Yūsuf/12: 95: (Perkataan anak-anak Yakub kepada ayahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”). Kata ini juga digunakan untuk mengungkapkan kesesatan orang-orang kafir dan penggunaannya lebih banyak. Tentunya kandungan ḍalāl antara keduanya sangat jauh berbeda. Al-Asfahānī mengungkapkan ada dua macam kesesatan, yaitu kesesatan dalam ilmu teori seperti kesesatan dalam mengetahui Allah dan kesesatan dalam ilmu terapan seperti sesat dalam mengetahui hukum-hukum syariat.
Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada Nabi Muhammad yaitu di saat dia sedang bingung, maka Dialah yang memberikan petunjuk. Ḍāll di sini tidak bisa diartikan dengan kesesatan yang dialami orang-orang kafir atau penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Allah, karena Nabi adalah ma‘ṣūm (terpelihara dari dosa). Tetapi seperti yang dijelaskan dalam Surah asy-Syūrā/42: 52, ḍāll di sini berkaitan dengan kisah kebingungan Muhammad saat melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan. Ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak memuaskan beliau sehingga membuatnya berada dalam kebingungan. Oleh karena itu, Muhammad pergi ke Gua Hira untuk ber-taḥannuṡ mencari jalan keluar dari kebingungan tersebut. Pada saat itu, Allah melalui Malaikat Jibril mendatanginya membawa petunjuk (hidayah) kebenaran.

