وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
Wa wajadaka ‘ā'ilan fa agnā.
dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?
Dan bukankah Dia juga mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan kepadamu dengan mengelola dagangan Khadijah dan dengan harta lainnya, seperti ganimah, serta membekalimu dengan sifat kanaah dan kesabaran atas pemberian-Nya?
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang miskin. Ayahnya tidak meninggalkan pusaka baginya kecuali seekor unta betina dan seorang hamba sahaya perempuan. Kemudian Allah memberinya harta benda berupa keuntungan yang amat besar dari memperdagangkan harta Khadijah dan ditambah pula dengan harta yang dihibahkan Khadijah kepadanya dalam perjuangan menegakkan agama Allah.
Dari keterangan-keterangan tersebut di atas, sesungguhnya Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa Dialah yang memeliharanya dalam keadaan yatim, menghindarkannya dari kebingungan, dan menjadikannya berkecukupan. Allah tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad selama hidupnya.
1. Āwā اٰوَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 6)
Kata Āwā berasal dari kata awā-ya’wī-uwiyyan wa ma’wan yang pada mulanya berarti kembali ke rumah atau tempat tinggal untuk berlindung. Dalam Surah al-Kahf diceritakan tentang sekelompok pemuda yang mencari perlindungan ke dalam gua (Iż awal-fityatu ilal-kahf). Dari sini, kata tersebut dipahami dan digunakan oleh Al-Qur’an dalam arti perlindungan yang melahirkan rasa aman dan ketenteraman, baik sumbernya adalah Allah maupun dari makhluk seperti manusia atau lainnya. Maksud ayat ini adalah perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad saat beliau ditinggal oleh bapaknya (Bukankah Dia mendapatimu seorang yatim, lalu Dia melindungimu?) Saat Abdullah wafat, Nabi Muhammad masih berada dalam kandungan ibunya. Pada usia enam tahun, ibunya menyusul dan dua tahun kemudian kakeknya yang mengasuh pun meninggal. Maka jadilah Muhammad seorang anak yatim. Akan tetapi, Allah senantiasa memberikan perlindungan sehingga keyatimannya tidak berpengaruh pada perkembangan jiwa dan kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau menjadi manusia terbesar dan berpengaruh sepanjang sejarah. Inilah yang dimaksud dengan perlindungan Allah terhadap Muhammad.
2. Ḍāllan ضَالًّا (aḍ-Ḍuḥā/93: 7)
Kata ḍāll terambil dari kata ḍalla-yaḍillu yang berarti tersesat, kehilangan jalan, atau bingung tidak mengetahui arah yang dituju. Antonimnya adalah hidāyah. Dari sini lahir makna binasa, terkubur, sesat dari jalan kebaikan. Ḍalāl diartikan dengan setiap penyimpangan dari aturan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sedikit penyimpangannya ataupun banyak. Untuk itu, kata ḍalāl kadang dinisbahkan kepada para nabi seperti dalam ayat ini atau Surah Yūsuf/12: 95: (Perkataan anak-anak Yakub kepada ayahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”). Kata ini juga digunakan untuk mengungkapkan kesesatan orang-orang kafir dan penggunaannya lebih banyak. Tentunya kandungan ḍalāl antara keduanya sangat jauh berbeda. Al-Asfahānī mengungkapkan ada dua macam kesesatan, yaitu kesesatan dalam ilmu teori seperti kesesatan dalam mengetahui Allah dan kesesatan dalam ilmu terapan seperti sesat dalam mengetahui hukum-hukum syariat.
Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada Nabi Muhammad yaitu di saat dia sedang bingung, maka Dialah yang memberikan petunjuk. Ḍāll di sini tidak bisa diartikan dengan kesesatan yang dialami orang-orang kafir atau penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Allah, karena Nabi adalah ma‘ṣūm (terpelihara dari dosa). Tetapi seperti yang dijelaskan dalam Surah asy-Syūrā/42: 52, ḍāll di sini berkaitan dengan kisah kebingungan Muhammad saat melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan. Ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak memuaskan beliau sehingga membuatnya berada dalam kebingungan. Oleh karena itu, Muhammad pergi ke Gua Hira untuk ber-taḥannuṡ mencari jalan keluar dari kebingungan tersebut. Pada saat itu, Allah melalui Malaikat Jibril mendatanginya membawa petunjuk (hidayah) kebenaran.

