اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ
Alam nasyraḥ laka ṣadrak(a).
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Nabi Muhammad),
Wahai Nabi, bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Kami telah menjadikanmu seorang nabi yang menerima syariat agama, berakhlak mulia, berwawasan luas, santun, dan sabar dalam menghadapi kepahitan hidup.
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa Allah telah melapangkan dada Nabi Muhammad dan menyelamatkannya dari ketidaktahuan tentang syariat. Nabi juga dirisaukan akibat kebodohan dan keras kepala kaumnya. Mereka tidak mau mengikuti kebenaran, sedang Nabi saw selalu mencari jalan untuk melepaskan mereka dari lembah kebodohan, sehingga ia menemui jalan untuk itu dan menyelamatkan mereka dari kehancuran yang sedang mereka alami.
Maksud dari ayat ini adalah Allah telah membersihkan jiwa Nabi saw dari segala macam perasaan cemas, sehingga dia tidak gelisah, susah, dan gusar. Nabi juga dijadikan selalu tenang dan percaya akan pertolongan dan bantuan Allah kepadanya. Nabi juga yakin bahwa Dia yang menugasinya sebagai rasul, sekali-kali tidak akan membantu musuh-musuhnya.
1. Wizraka وِزْرَكَ (asy-Syarḥ/94: 2)
Kata wizraka terdiri dari dua kata yaitu wizr dan ḍamīr muttaṣil mukhāṭabah “ka” yang berarti kamu. Kata wizr berasal dari kata al-wazar yang berarti gunung yang dijadikan sebagai tempat berlindung. Kemudian kata ini digunakan untuk beban berat yang dipikul menyerupai gunung yang memberi kesan sesuatu yang besar dan berat. Dari kata ini lahir kata wazīr misalnya yang menunjukkan pada pemikulan tugas dan tanggung jawab yang berat dari tuannya. Wizr juga diartikan dengan dosa, karena dengan dosa seseorang akan merasakan dalam jiwanya sesuatu yang sangat berat. Di samping itu, dosa akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul pada hari Kiamat nanti. Bentuk jamaknya adalah auzār. Auzārul-ḥarb adalah alat-alat berat yang digunakan dalam peperangan. Al-Muwāzarah juga berarti menolong urusan seseorang, seperti doa Nabi Musa dalam Surah Ṭāhā/20: 29, yang menginginkan Nabi Harun sebagai wazīr-nya (penolong). Kata ini dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 27 kali dalam Al-Qur’an.
Maksud ayat ini adalah Allah telah menanggalkan beban yang memberatkan punggung Nabi Muhammad dan melapangkan dadanya. Menurut sebagian ulama, beban ini adalah rasa cemas dan khawatir yang menghinggapi jiwa Rasul terkait dengan risalah dakwah yang beliau emban. Kata ini memberi kesan bahwa Rasulullah senantiasa memikirkan umatnya yang terus menghambat dan menghalang-halangi dakwahnya. Ini merupakan suatu beban (wizr) yang dipikul Muhammad.
2. Anqaḍa اَنْقَضَ (asy-Syarḥ/94: 3)
Lafal anqaḍa berasal dari kata naqaḍa-yanquḍu-naqḍ yang berarti mengurai sesuatu yang sudah terikat atau merusak. Biasanya berkaitan dengan ikatan tali atau bangunan. Dari sini lahir makna pelanggaran perjanjian yang telah disepakati seakan-akan ia mengurai tali yang sudah terikat atau menghancurkan bangunan yang sudah kokoh. Naqīḍ berarti suara yang terdengar saat memikul beban yang berat yang muncul dari alat pikul tersebut. Kokok ayam betina saat setelah bertelur diungkapkan dengan intaqaḍat ad-dajājah. Makna ini yang dimaksud dalam ayat ini yaitu beban berat yang dipikul punggung.
Pada surat ini, Allah menjelaskan tentang nikmat atau anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad. Pada ayat sebelumnya, dijelaskan tentang nikmat as-syarḥ atau pelapangan dada berupa rasa nyaman dan ketenangan yang dirasakan Muhammad dengan kehadiran Tuhannya. Pada ayat ini, Allah menambahkan nikmat-Nya dengan menghilangkan beban yang selama ini memberatkan punggung Muhammad. Kata anqaḍa sampai punggungnya diungkapkan dengan suara kayu atau bambu. Ada beberapa pendapat mengenai beban berat yang diderita Muhammad, di antaranya adalah wafatnya istri dan paman beliau yaitu Khadijah dan Abū Ṭālib, beratnya wahyu yang diterimanya, dan beratnya keadaan masyarakat Jahiliah yang enggan menerima risalah yang dibawanya.

