وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّدْعُوْنَ اِلَى النَّارِۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ لَا يُنْصَرُوْنَ
Wa ja‘alnāhum a'immatay yad‘ūna ilan-nār(i), wa yaumal-qiyāmati lā yunṣarūn(a).
Kami menjadikan mereka (Firʻaun dan bala tentaranya) para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka. Pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong.
Dan sesuai dengan kehendak serta jati diri mereka, Kami jadikan mereka para pemimpin kekufuran dan kedurhakaan yang selalu mengajak manusia yang lemah jiwa dan akalnya kepada perbuatan buruk yang menyebabkan mereka masuk ke neraka, dan dengan demikian mereka akan menjadi penghuni neraka, sehingga pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong, karena mereka kafir dan selalu mendustakan Rasul utusan Tuhan.
Ayat ini memberi julukan kepada Fir‘aun dan kaumnya yang durhaka bahwa mereka adalah pemimpin-pemimpin yang membawa manusia ke neraka karena mereka telah menyesatkan manusia dan memaksa setiap orang untuk kafir terhadap Tuhannya. Mereka merasa bebas melakukan kezaliman sekehendak hatinya, tanpa ada rasa keadilan dan rasa kasih sayang.
Sebenarnya mereka ini telah melakukan dua kesalahan, kesalahan bagi diri mereka sendiri dan kesalahan menyesatkan orang lain. Maka pantaslah bila mereka menerima siksaan yang berlipat ganda, siksaan terhadap kesesatan sendiri dan siksaan karena menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, tidak akan ada penolong bagi mereka di akhirat nanti dan tidak ada yang akan membebaskan dari siksa Allah.
1. Ṣarḥ صَرْحٌ (al-Qaṣaṣ/28: 38)
Akar katanya adalah ṣaraḥa-yaṣruḥu-ṣar āḥah, artinya “suci, bersih, jelas”. Ṣarraḥa adalah menyatakan pendapat dengan gamblang. Ṣarḥ juga bermakna gedung yang tinggi dan bersih, atau istana. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, qīla lahadkhuliṣ-ṣarḥ(a), falammā ra’athu ḥasibathu lujjah (dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana. Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar) (an-Naml/27: 44). Ia adalah Ratu Balqis yang mengunjungi Nabi Sulaiman di istananya. Ratu itu takjub sekali dan kemudian menyatakan keislamannya. Juga terdapat ayat, fa’auqid lī yā hāmānu ‘alaṭ-ṭīni faj’al lī ṣarḥal la’allī aṭṭali’u ilā ilāhi mūsā, (Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa) (al-Qaṣaṣ/28: 38).
2. Al-Maqbūḥin اَلْمَقْبُوْحِ يْنُ (al-Qaṣaṣ/28: 42)
Al-Maqbūḥīn merupakan bentuk jamak dari isim maf’ūl al-maqbuḥ yang berasal dari kata qabuḥa-yaqbuḥu yang secara bahasa berarti buruk, sebagai antonim dari bagus. Biasanya lafal ini diungkapkan untuk menyifati sebuah bentuk keburukan atau kejelekan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “lā tuqabbiḥu al-wajh”, artinya: janganlah kalian berkata kepada seseorang bahwa dia berwajah jelek. Qabbaḥa Allāh artinya Allah menjadikan jelek. Al-Maqbūḥ berarti orang yang ditolak, dijauhkan atau dianggap jelek, Al-Qabīḥ berarti suatu pekerjaan atau keadaan yang membuat penglihatan mata dan hati tidak merasa nyaman. Al-Qabīḥ berarti juga ujung tulang siku. Dalam Al-Qur’an kalimat qabuḥa ini hanya terulang sekali yaitu bentuk al-maqbūḥīn.
Dalam ayat ini, al-maqbūḥīn berarti mereka akan dijauhkan dari kebaikan, karunia, dan rahmat Allah. Diceritakan sebelumnya bahwa Fir‘aun dan kaumnya senantiasa menyombongkan diri dan berusaha untuk menyesatkan dan membuat kafir orang lain sehingga mereka dijuluki a’immah (pemimpin-pemimpin) dalam kesesatan. Oleh karena itu, pada hari Kiamat nanti mereka tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan termasuk orang-orang yang mendapatkan laknat-Nya. Karena sikapnya, mereka pun termasuk kelompok maqbūḥīn (dijauhkan) dari rahmat Allah dan akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih. Balasan ini merupakan hal yang wajar dan pantas jika melihat dua kesalahan yang mereka lakukan yaitu kesalahan menyesatkan diri mereka dan kesalahan menyesatkan orang lain. Al-Maqbūḥīn juga mengandung sebuah keadaan yang membuat orang merasa ingin menghindar dan menjauh.

