v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 40 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 390 •  Quarter Hizb 39.75 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ

Fa'akhażnāhu wa junūdahū fanabażnāhum fil-yamm(i), fanẓur kaifa kāna ‘āqibatuẓ-ẓālimīn(a).

Kami menghukum dia (Firʻaun) dan bala tentaranya. Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim.

Makna Surat Al-Qasas Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka sebagai akibat keangkuhan dan kedurhakaan mereka dan setelah itu mencapai puncaknya Kami siksa dia, yakni Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam Laut Merah seperti melempar batu-batu kecil yang tidak berarti sehingga mereka semua mati tenggelam. Maka perhatikanlah, wahai Nabi Muhammad dan siapa pun yang mengetahui peristiwa itu, bagaimana kesudahan buruk yang menimpa orang yang zalim.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Fir‘aun dan tentaranya sangat sombong dan takabur. Fir‘aun menganggap dan mengaku hanya dialah penguasa yang mutlak di muka bumi. Siapa saja yang menantangnya dianggap salah dan durhaka. Kalau dikatakan kepadanya ada Tuhan yang lebih besar daripada kekuasaannya, Fir‘aun menjadi kalap, dan tak dapat lagi menguasai dirinya, seperti memerintahkan dengan segera membuat suatu hal yang mustahil, seperti membuat bangunan setinggi langit agar dia dapat berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.

Fir‘aun dan kaumnya mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tidak akan diperhitungkan apa yang telah dikerjakan selama hidup di dunia, dan tidak ada yang akan menyiksa bila mereka melakukan kezaliman dan kekejaman. Memang demikianlah kepercayaan mereka karena pengaruh kesombongan dan ketakaburan itu. Mereka membuat piramida yang besar untuk kuburan mereka yang diisi dengan perabot yang lengkap dan serba mewah serta pakaian dan perhiasan yang indah-indah, untuk dinikmati sesudah mati.

Karena kesombongan dan ketakaburan itu, Allah mengazab mereka di dunia dan akhirat. Di dunia Fir‘aun ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam lautan, dan di akhirat mereka akan disiksa dalam neraka.

Demikianlah nasib yang telah ditetapkan Allah bagi orang yang takabur dan sombong, berbuat zalim dan aniaya terhadap Allah dan sesamanya. Sebenarnya kelanjutan kisah Fir‘aun bisa ditemukan pada surah-surah lain dalam Al-Qur’an seperti Surah al-A‘rāf, Yūnus, Ṭāhā, dan sebagainya. Akan tetapi, Allah hendak menegaskan di sini bagaimana nasib orang-orang yang durhaka yang tidak lagi mempergunakan akal dan pikirannya sehingga tertutuplah hatinya untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, sehingga dia menjadi sombong dan takabur. Hal itu layak menjadi perhatian dan pelajaran bagi seluruh manusia.

Isi Kandungan Kosakata

1. Ṣarḥ صَرْحٌ (al-Qaṣaṣ/28: 38)

Akar katanya adalah ṣaraḥa-yaṣruḥu-ṣar āḥah, artinya “suci, bersih, jelas”. Ṣarraḥa adalah menyatakan pendapat dengan gamblang. Ṣarḥ juga bermakna gedung yang tinggi dan bersih, atau istana. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, qīla lahadkhuliṣ-ṣarḥ(a), falammā ra’athu ḥasibathu lujjah (dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana. Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar) (an-Naml/27: 44). Ia adalah Ratu Balqis yang mengunjungi Nabi Sulaiman di istananya. Ratu itu takjub sekali dan kemudian menyatakan keislamannya. Juga terdapat ayat, fa’auqid lī yā hāmānu ‘alaṭ-ṭīni faj’al lī ṣarḥal la’allī aṭṭali’u ilā ilāhi mūsā, (Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa) (al-Qaṣaṣ/28: 38).

2. Al-Maqbūḥin اَلْمَقْبُوْحِ يْنُ (al-Qaṣaṣ/28: 42)

Al-Maqbūḥīn merupakan bentuk jamak dari isim maf’ūl al-maqbuḥ yang berasal dari kata qabuḥa-yaqbuḥu yang secara bahasa berarti buruk, sebagai antonim dari bagus. Biasanya lafal ini diungkapkan untuk menyifati sebuah bentuk keburukan atau kejelekan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “lā tuqabbiḥu al-wajh”, artinya: janganlah kalian berkata kepada seseorang bahwa dia berwajah jelek. Qabbaḥa Allāh artinya Allah menjadikan jelek. Al-Maqbūḥ berarti orang yang ditolak, dijauhkan atau dianggap jelek, Al-Qabīḥ berarti suatu pekerjaan atau keadaan yang membuat penglihatan mata dan hati tidak merasa nyaman. Al-Qabīḥ berarti juga ujung tulang siku. Dalam Al-Qur’an kalimat qabuḥa ini hanya terulang sekali yaitu bentuk al-maqbūḥīn.

Dalam ayat ini, al-maqbūḥīn berarti mereka akan dijauhkan dari kebaikan, karunia, dan rahmat Allah. Diceritakan sebelumnya bahwa Fir‘aun dan kaumnya senantiasa menyombongkan diri dan berusaha untuk menyesatkan dan membuat kafir orang lain sehingga mereka dijuluki a’immah (pemimpin-pemimpin) dalam kesesatan. Oleh karena itu, pada hari Kiamat nanti mereka tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan termasuk orang-orang yang mendapatkan laknat-Nya. Karena sikapnya, mereka pun termasuk kelompok maqbūḥīn (dijauhkan) dari rahmat Allah dan akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih. Balasan ini merupakan hal yang wajar dan pantas jika melihat dua kesalahan yang mereka lakukan yaitu kesalahan menyesatkan diri mereka dan kesalahan menyesatkan orang lain. Al-Maqbūḥīn juga mengandung sebuah keadaan yang membuat orang merasa ingin menghindar dan menjauh.