v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 26 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 26 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 388 •  Quarter Hizb 39.5 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

Qālat iḥdāhumā yā abatista'jirh(u), inna khaira manista'jartal-qawiyyul-amīn(u).

Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

Makna Surat Al-Qasas Ayat 26
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Anak perempuan orang tua itu kagum kepada Musa, melihat kekuatan fisiknya dan kewibawaannya ketika mengambil air minum ternak, serta kesantunannya ketika berjalan menuju rumah. Selanjutnya salah seorang dari kedua perempuan yang datang mengundang Musa berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita antara lain menggembalakan ternak kita, karena sesungguhnya dia adalah orang yang kuat dan terpercaya, dan sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita untuk pekerjaan apa pun ialah orang yang kuat fisik dan mentalnya dan dapat dipercaya.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Rupanya orang tua itu tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. Oleh sebab itu, yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja, sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka, di samping mengurus rumah tangga. Terpikir oleh salah seorang putri itu untuk meminta tolong kepada Musa yang tampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya menjadi pembantu di rumah ini.

Putri itu mengusulkan kepada bapaknya agar mengangkat Musa sebagai pembantu mereka untuk menggembala kambing, mengambil air, dan sebagainya karena dia seorang yang jujur, dapat dipercaya, dan kuat tenaganya. Usul itu berkenan di hati bapaknya, bahkan bukan hanya ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan salah satu putrinya dengan Musa.

Isi Kandungan Kosakata

1. Ya’tamirūn يَأْ تَمِرُوْنَ (al-Qaṣaṣ/28: 20)

Kata dasar kata ini adalah amara-ya’muru-amr artinya “memerintahkan”. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat, qul amara rabbī bil-qisṭ (katakanlah, “Tuhanku memerintahkan keadilan.”) (al-A‘rāf/7: 29). Dalam bentuk masdar misalnya atā amru Allah (telah datang perintah Allah) (an-Naḥl/16: 1), yaitu kiamat. Dari kata dasar itu terbentuk kata i’tamara ‘saling memerintahkan’ atau ‘saling menaati’, artinya “bermusyawarah”. Bentuk muḍāri’-nya adalah ya’tamiru. Ya’tamirūn adalah jamaknya, artinya “mereka sedang bermusyawarah”. Yang dimaksud dalam ayat ini (al-Qaṣaṣ/28: 20) adalah bahwa para pembesar Mesir sedang berembuk untuk merencanakan pembunuhan atas diri Musa karena ia sudah membunuh seorang penduduk Mesir. Dari kata itu terbentuk kata mu’tamar, yaitu muktamar, kongres, atau sidang untuk membahas persoalan tertentu.

2. Madyan atau Midian مَدْيَنَ (al-Qaṣaṣ/28: 23)

Madyan adalah negeri atau kawasan tempat Nabi Syuaib diutus Allah untuk mengingatkan masyarakatnya (akhahum) (al-A‘rāf/7: 85) menghindari penyembahan berhala dan menjauhi kezaliman. Di dalam Al-Qur’an kata Madyan sepuluh kali disebutkan dalam tujuh surah. Madyan ini yang menjadi tempat persinggahan Nabi Musa ketika ia lari dari Mesir karena diancam akan dibunuh oleh Fir‘aun setelah ia membunuh orang Mesir. Di Madyan ini pula ia menikah dengan putri seorang pemuka setempat (al-Qaṣaṣ/28: 22-28). Madyan boleh jadi sama dengan Midian dalam Perjanjian Lama. Letak kawasan ini mungkin di Kanaan, sebelah barat Yordania dan Laut Mati, berbatasan dengan Semenanjung Sinai. Daerah-daerah Madyan ini berada di suatu jalan raya perdagangan Asia, di antara dua bangsa yang kaya dan sudah teratur baik atau berbudaya, seperti Mesir dan Mesopotamia. Nama tempat ini diambil dari nama anak Ibrahim, Midian (Madyan). Midian adalah anak Ibrahim dari istrinya yang bernama Ketura (Bibel, Keturah), yang dinikahi Ibrahim setelah Sara (Bibel, Sarah) meninggal. Anak Abraham dari perempuan ini enam orang, anak keempat bernama Midian (Kej. 25: 2 Tawarikh I, 1: 32). Midian (Madyan) merupakan leluhur orang Arab yang tinggal di Sahara utara dari semenanjung Arab. Mereka memang berdarah Arab, dan sebagai tetangga orang-orang Kanaan, mereka sudah bercampur-baur ke selatan sampai ke timur pantai Teluk Ailah dan ke utara sampai ke perbatasan dengan Palestina. Jadi kawasan Madyan adalah sebuah eponim dari nama anak Abraham itu.

Watak penduduknya berbeda-beda, ada yang keras dan banyak melakukan pelanggaran serta umumnya mereka adalah penyembah berhala, meskipun banyak juga yang ramah. Mereka adalah suku pengembara dan pedagang. Yitro, seorang imam di tempat itu dan mertua Musa, dan Hobab anaknya, bersahabat baik dengan orang-orang Israel (Bilangan 10: 29; Hakim-Hakim 1: 16). Hubungan kekeluargaan Musa dengan orang-orang Midian (Kel. 2: 15 ff.) sangat baik karena perkawinannya dengan putri Yitro, Zipporah (Kel. 2: 18). Tetapi sejarah Madyan kemudian tidak jelas setelah terjadi perang pembasmian oleh orang-orang Israel di masa Musa terhadap orang Madyan, dan mereka menjadi musuh orang Israel (Hakim-Hakim 4-8) dan Madyan kemudian menjadi hancur.

Menurut Perjanjian Lama, Tuhan berfirman kepada Musa agar orang Israel melakukan pembalasan kepada orang Midian. Kemudian Musa mengerahkan tiap suku kaum Israel bersenjata melakukan perang pembalasan Tuhan kepada orang Midian, lalu mereka berperang melawan Midian, seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa. Mereka membunuh semua laki-laki Midian, dan mereka juga membunuh raja-raja Midian Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, ternak, dan segenap kekayaan mereka dijarah. Segala kota kediaman serta tempat perkemahan mereka dibakar. Seluruh jarahan dan rampasan berupa manusia dan hewan diambil, lalu dibawa kepada Musa dan Imam Eleazar dan kepada umat Israel di tempat perkemahan mereka di dataran Moab. (Bilangan 31: 1-12).