v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat Al-Insān (Manusia)
الانسان
Ayat 4 / 31 •  Surat 76 / 114 •  Halaman 578 •  Quarter Hizb 58.5 •  Juz 29 •  Manzil 7 • Madaniyah

اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَلٰسِلَا۟ وَاَغْلٰلًا وَّسَعِيْرًا

Innā a‘tadnā lil-kāfirīna salāsila wa aglālaw wa sa‘īrā(n).

Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

Makna Surat Al-Insan Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Bagi yang kufur maka Allah telah menyediakan balasan siksa yang mengerikan, seperti yang ditegaskan pada ayat ini. Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir yang mantap kekafirannya, rantai yang digunakan untuk mengikat kaki, dan belenggu dan juga neraka yang menyala-nyala.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah telah menyediakan rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala bagi orang-orang kafir, yaitu orang yang mengingkari dan bahkan membantah, nikmat dan pemberian yang telah dianugerahkan kepadanya. Rantai dipakai untuk mengikat kaki mereka supaya tidak lari, sedang belenggu untuk merantai tangan dan leher yang diikat ke neraka. Neraka Sa‘īr (yang menyala-nyala) seperti disebutkan dalam surah yang lalu adalah neraka yang nyalanya tidak dapat dibandingkan dengan jenis api mana pun di atas dunia ini. Api di dunia hanya sepertujuh puluh dari api neraka.

Ayat lain menyebutkan:

اِذِ الْاَغْلٰلُ فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلٰسِلُۗ يُسْحَبُوْنَۙ ٧١

Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Gāfir/40: 71)

Isi Kandungan Kosakata

1. Kāfūran كَافُوْرًا (al-Insān/76: 5)

Kāfūr adalah sejenis minyak (damar) yang diperoleh dari pohon tertentu (yaitu sejenis pohon gaharu) yang banyak terdapat di daratan Cina dan Jawa (Asia Tenggara). Minyak ini baru dapat diambil dari pohonnya setelah pohon itu berumur sekitar 200 tahun. Warna minyak ini putih dan baunya harum. Pada ayat ini, yang dimaksud dengan kāfūr adalah keharuman dan warnanya yang bening, dan bukan sebagaimana yang dilihat di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kāfūr pada ayat ini adalah nama dari salah satu mata air yang ada di surga.

2. Qamṭarīran قَمْطَرِيْرًا (al-Insān/76: 10)

Kata qamṭarīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja qamṭara-yuqamṭiru yang artinya berkumpul atau mengikat sesuatu dengan kuat. Seseorang yang mengerutkan dahinya bagaikan mengumpulkan atau mengikat kulit dahinya dengan kuat. Keadaan seperti ini mengisyaratkan bahwa ia sedang menghadapi suatu persoalan yang berat dan sulit, sehingga ia mesti berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Dapat juga hal ini berkaitan dengan sesuatu yang tidak disenangi, sehingga ia perlu mengernyitkan dahi dalam meresponnya. Dari makna demikian, kata tersebut kemudian diartikan sebagai suasana yang sangat sulit.