وَقَالُوْا رَبَّنَآ اِنَّآ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا۠
Wa qālū rabbanā innā aṭa‘nā sādatanā wa kubarā'anā fa aḍallūnas-sabīlā.
Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Dan mereka juga berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami yang sesat, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.
Mereka berkata dengan penuh perasaan mendongkol karena tertipu oleh para pemimpin dan pembesar mereka di dunia, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami di dunia telah mengikuti pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.”
1. Sa’īran سَعِيْرًا (al-Aḥzāb/33: 64)
Sa’īr terambil dari kata as-sa’r yang berarti api yang menyala-nyala. Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang yang bertanya kepada rasul tentang hari Kiamat dan kedatangannya dengan pertanyaan yang mengandung ejekan dan penolakan untuk memercayai kebenaran hari Kiamat tersebut. Maka Allah jadikan api neraka yang menyala-nyala sebagai ancaman bagi orang-orang kafir yang menolak memercayai hari Kiamat, sebab memercayai hari Kiamat merupakan salah satu dari rukun iman, menolak hari Kiamat berarti menolak keberadaan Allah.
2. Sādatanā سَادَتَنَا (al-Aḥzāb/33: 67)
Jamak dari sādāh, sedangkan sādāh adalah bentuk jamak dari sayyid yang artinya orang-orang yang mempunyai ketinggian derajat sehingga mereka menjadi orang yang dihormati. Ayat ini menggambarkan penyesalan orang-orang kafir dan musyrik ketika menghadapi neraka jahanam kelak di akhirat, di mana mereka mengakui bahwa mereka lebih memilih untuk menaati para pemimpin dan pembesar mereka daripada beriman kepada para rasul, sehingga mereka disesatkan oleh para pembesar mereka sendiri.

