وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ
Wa qālū lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā‘ā(n), wa lā yagūṡa wa ya‘ūqa wa nasrā(n).
Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.’730)
Dan mere-ka memprovokasi masyarakat dengan berkata, Jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu dan untuk menegaskan larangannya itu mereka menyebut satu demi satu tuhan-tuhan yang mereka sembah sambil lebih tegas lagi menyatakan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yagus, Yaq dan Nasr. Itu semua adalah nama-nama berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nuh, yang semula nama-nama orang saleh.
Pembesar-pembesar umat Nabi Nuh meminta kaumnya agar tidak meninggalkan tuhan-tuhan yang telah disembah nenek moyang mereka dahulu. Mereka disuruh untuk tetap menyembah berhala-berhala mereka yaitu, wadd, suwā‘, yugūṡ, ya‘ūq dan nasr.
Kelima berhala tersebut merupakan berhala yang paling dihormati di antara sekian banyak berhala kabilah-kabilah kaum Nuh. Masing-masing kabilah juga mempunyai berhala-berhala sendiri yang berbeda-beda satu sama lain. Dari sinilah para ulama berpendapat bahwa agama syirik mulai berkembang pada zaman Nabi Nuh. Sebelumnya, yaitu pada masa Nabi Adam dan Idris, belum ada keyakinan syirik ataupun penyembahan berhala.
Penyembahan kepada banyak berhala itu kemudian turun kepada bangsa Arab. Oleh karena itu, bangsa Arab juga memiliki berhala-berhala yang dinamai dengan nama-nama yang pernah dipakai oleh umat Nuh.
Menurut riwayat al-Bukhārī, Ibnu al-Munżir, dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbās bahwa ia berkata, “Kemudian berhala-berhala itu pindah kepada bangsa Arab, maka Wadd menjadi berhala kabilah Kalb, Suwā‘ menjadi berhala kabilah Huẓail, Yagūṡ menjadi berhala kabilah Murād yang kemudian berpindah kepada kabilah Guṭaif; Ya‘ūq menjadi berhala kabilah Hamdān, dan Nasr menjadi adalah nama berhala kabilah Himyār.”
Di samping itu, juga terdapat berhala-berhala selain tersebut dalam ayat di atas yang disembah oleh umat Nuh, yang kemudian berpindah pula kepada bangsa Arab, seperti al-Lāt, berhala kaum Ṡaqīf di Ṭa'if; al-‘Uzzā, berhala kabilah Sulaim, Gaṭfān, dan Jusyam; Manāh, berhala kabilah Khuzā‘ah di Qudaid; Asāf, Nā'ilah, dan Hubal, berhala-berhala yang disembah penduduk Mekah. Hubal adalah berhala yang terbesar dan teragung, menurut mereka, yang diletakkan di atas Ka‘bah. Berhala-berhala itu mereka buat sendiri untuk disembah.
Perpindahan berhala-berhala itu dari bangsa-bangsa lain ke bangsa Arab seperti diisyaratkan oleh riwayat di atas menunjukkan bahwa ajaran monoteisme yang dibawa oleh Nabi Muhammad berlaku atau bersifat universal. Ajaran itu tidak hanya untuk bangsa Arab, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain.
Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr وَدًّا، سُوَاعًا، يَغُوثَ، يَعُوقَ، وَنَسْرًا (Nūḥ/71: 23)
Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr adalah nama-nama berhala yang disembah kaum Nabi Nuh. Kelima berhala ini, menurut beberapa mufasir, merupakan berhala-berhala terbesar yang mereka sembah, dan karenanya berjenis laki-laki. Ibnu Kaṡīr agak merinci kabilah-kabilah Arab yang terpengaruh oleh berhala-berhala itu, seperti Wadd yang katanya menjadi berhala Bani Kalb di Daumatul-Jandal, Suwā‘ berhala kabilah Hużail, Yagūṡ menjadi sembahan Bani Murād kemudian Bani Guṭaif, Ya‘ūq berhala untuk kabilah Hamdān, dan Nasr untuk Himyar.
Beberapa generasi Quraisy menganggap patung Mu'abi (Moab) zaman purba itu sebagai personifikasi Tuhan yang akan membawa berkah dan keselamatan bagi mereka. Di daerah Hijaz, ada tiga "putri tuhan" yang lain, yakni al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāh (an-Najm/53: 19-20), semuanya perempuan. Al-Lāt berhala dalam bentuk batu putih yang diukir, berpusat di Ṭā'if dan menjadi sembahan kaum Ṡaqīf, al-‘Uzzā berupa pohon disertai bangunan dan dinding-dinding, terletak di Nakhlah, di antara Mekah dengan Ṭā'if; dan Manāh dalam bentuk batu letaknya di antara Mekah dengan Yasrib, disembah oleh kaum Khuzā‘ah, Aus, dan Khazraj. Jauh sebelum itu, lima nama berhala Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr (Nūḥ/71: 23) melambangkan kultus kaum musyrik yang paling tua, sebelum atau sesudah Banjir Nuh, yang tampaknya kemudian menjadi sembahan beberapa kabilah Arab di utara dan di selatan Jazirah Arab. Terutama Wadd, menurut Ismail Faruqi (The Cultural Atlas of Islam), menjadi sembahan masyarakat Ma‘in, sebuah kota purba di Yaman. Di Mekah nama-nama ini tak banyak dikenal, tetapi masih bertahan di antara suku-suku Arab yang terpencil, yang dipengaruhi kultus Mesopotamia (negeri Nabi Nuh).
Mengingat usianya yang sangat tua mungkin ini pula yang menjadi asal mula berhala-berhala dan segala takhayul orang pagan itu sampai kemudian dianut menjadi sembahan orang Arab musyrik zaman dahulu dengan berbagai macam bentuk dan nama. Abdullah Yusuf Ali menjelaskan, yang dapat diringkaskan, bahwa nama-nama suku itu oleh para mufasir dilestarikan untuk kita, yang buat masa sekarang tak lebih hanya untuk keperluan arkeologi.
Akan tetapi, dari segi perbandingan agama, nama-nama berhala ini cukup menarik, sebab salah satu bentuk kultus demikian di beberapa negeri yang belum menerima ajaran tauhid, masih ada dan selalu ada. Nama-nama kelima berhala dan simbol-simbol yang dilambangkan itu dalam bentuk dan sifat dewa sebagai berikut:
1. Wadd -- Laki-laki -- Kekuatan manusia
2. Suwā‘ -- Perempuan -- Berubah-ubah, Cantik
3. Yagūṡ -- Singa (atau Banteng) -- Ganas
4. Ya‘ūq -- Kuda -- Cepat
5 . Nasr -- Rajawali, Hering, Elang -- Ketajaman mata
Tidak jelas apakah nama-nama ini ada hubungannya dengan dasar kata kerja bahasa Arab yang sebenarnya, atau hanya sekadar bentuk yang sudah diarabkan dari nama-nama yang diambil dari kultus asing, seperti dari Babilonia atau Asyur—kawasan yang termasuk Banjir Nuh. Perkiraan yang kemudian itu mungkin saja. Bahkan dalam soal Wadd (cinta kasih) dan Nasr (Burung Rajawali), yang memang dari kata-kata bahasa Arab murni, dalam hal ini masih disangsikan kalau-kalau itu bukan terjemahan kata-kata atau kultus asing yang sudah mengalami perubahan.
Lalu mereka mengalihkan penyembahan itu pada benda-benda langit. Pakar-pakar astronomi di dunia lama itu adalah orang-orang Babilonia dan Kaldea. Di antara kedua tempat itu ialah tanah kelahiran Nabi Ibrahim. Kiasan yang disebutkan dalam kisah Nabi Ibrahim (al-An‘ām/6: 74-82) menunjukkan peranan kultus pemujaan pada benda-benda langit dan kepalsuan yang ada di dalamnya.
Ada beberapa bintang tertentu yang menarik perhatian para pemujanya, misalnya Bintang Sirius (Syu‘rā), bintang yang paling terang di langit, dengan sinar kebiru-biruan, dan Algol bintang yang terangnya bertukar-tukar sebagai bintang bercahaya kedua dalam gugus bintang Perseus, yang pertukarannya dapat dilihat dengan mata telanjang dalam dua atau tiga malam. Bintang ini banyak dihubungkan dengan dongeng-dongeng dan legenda, sasakala, mitos, dan takhayul. Barangkali bintang Sirius itulah bintang yang disebutkan sebagai kiasan dalam kisah Nabi Ibrahim (al-An‘ām/6: 76).
Mengenai bintang-bintang yang begitu banyak jumlahnya itu, para astronom mengalihkan kegemarannya pada penemuan gugus-gugus bintang. Tetapi “bintang-bintang,” bergerak atau planet-planet, masing-masing dengan hukum dan gerakannya sendiri, menonjolkan dirinya masing-masing dengan gerakan dan karenanya mempengaruhi dirinya sendiri. Sepanjang yang mereka ketahui dan mereka pahami, jumlahnya ada tujuh, yaitu: (1) dan (2) bulan dan matahari, dua benda yang paling dekat, yang sudah tentu mempengaruhi pasang surut, suhu dan kehidupan di planet kita ini; (3) dan (4) planet-planet yang lebih ke dalam, bintang Utarid dan bintang Johar, yang merupakan bintang pagi dan petang, dan tak pernah pergi jauh dari matahari, dan (5), (6) dan (7), Mars, Jupiter dan Zohal (Saturnus), planet-planet luar yang pemanjangannya dari matahari pada waktu gerhana sampai seluas-luasnya. Bilangan tujuh itu sendiri menjadi bilangan keramat matahari, bulan, dan lima planet. Masing-masing disamakan dengan berhala yang hidup, serta dewa dan dewi dengan watak dan sifat-sifatnya sendiri.
Pemujaan pada bulan sama populernya dengan bentuknya yang beraneka macam. Mengenai legenda Apollo dan Diana, saudara kembar laki-laki dan perempuan yang melambangkan matahari dan bulan, dalam bahasa Arab kata (qamar) merupakan jenis kelamin jantan, sebaliknya matahari (syams) berjenis kelamin betina. Dengan demikian, Arab pagan memandang matahari sebagai dewi dan bulan sebagai dewa.
Nama-nama hari selama seminggu itu diambil dari nama tujuh planet menurut astronomi geosentris, dan bila kita mengambilnya dalam urutan yang berselang-seling menunjukkan adanya keteraturan itu. Langitnya tersusun berdasarkan kedekatannya ke bumi.
Daftar berikut menggambarkan pengelompokan ini:
Planet Terkemuka Dewa dan dewi Hari dalam seminggu dalam urutan berselang-seling
Bulan Dian a Ahad
Utarid Utarid Selasa
Venus Venus Kamis
Matahar i Apollo Sabtu
Mars Mars Se nin
Jupiter Jupiter Rabu
Z ohal Zohal Jumat
Urutan yang berselang-seling ini berjalan dalam sebuah lingkaran; karena jumlah bilangannya tujuh, bilangan itu sendiri merupakan bilangan keramat.
Arus balik dan campuran pemujaan kepada alam, bintang, pahlawan, sifat-sifat yang serba niskala (abstrak), dan sebagainya itu mengakibatkan campur aduknya segala macam takhayul murahan yang disimpulkan dalam lima nama, Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr, seperti disebutkan di atas. Zaman Nabi Nuh dianggap puncak segala macam takhayul dan pemujaan palsu, dan kebanyakan kultus zaman purba itu, secara simbolik berada di bawah sumber utama ini. Kalau Wadd dan Suwā‘ melambangkan laki-laki dan perempuan, mungkin ini melambangkan pemujaan kepada benda-benda langit berupa bulan dan matahari, atau matahari dan bulan, atau semua ini mungkin melambangkan pemujaan kepada pribadi manusia, memuja pribadi sebagai lawan Tuhan, atau mungkin melambangkan pemujaan kepada kejantanan atau kecantikan perempuan, atau sifat-sifat abstrak semacam itu. Selanjutnya mungkin juga bahwa Nasr (burung hering, rajawali, atau garuda, Horus di Mesir) melambangkan mitos matahari, dicampur dengan pemujaan kepada planet-planet. Semua arus balik campuran pemujaan mitologi bintang ini cukup dikenal di kalangan peneliti agama-agama purba. Dari sudut pandang yang lain, jika kelima nama itu melambangkan sifat-sifat, pasangan Wadd-Suwā‘ (Matahari-Bulan, Jupiter-Venus) melambangkan tenaga kejantanan dan kecantikan perempuan atau masing-masing dapat berubah-ubah, dan yang tiga sisanya (Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr) melambangkan keganasan, seperti banteng atau singa; kecepatan seperti kuda atau ketajaman (mata atau akal) seperti burung rajawali atau garuda.
Perlu dicatat bahwa kelima nama berhala yang disebutkan disini, untuk melambangkan kultus agama-agama yang paling tua. Nama-nama berhala ini tak banyak dikenal di Mekah, tetapi yang masih bertahan sebagai pecahan-pecahan kultus yang sangat tua di antara suku-suku Jazirah Arab yang terpencil, yang dipengaruhi oleh kultus Mesopotamia (negeri Nabi Nuh). Berhala-berhala kaum musyrik yang paling terkenal di dalam Ka‘bah dan sekitar Mekah ialah al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāh (Manāh juga dikenal di sekitar Yasrib, yang kemudian menjadi Medinah). Lihat Surah an-Najm/53: 19-21.
Orang-orang Sabaea (aṣ-Ṡābi'ūn) yang menyembah benda-benda langit di Jazirah Arab barangkali sumbernya di Kaldea (Irak). Langkah berikutnya yang lebih beradab dalam kepercayaan kaum pagan ialah menyembah keniskalaan (abstrak), menggunakan benda-benda konkret sebagai lambang sifat-sifat yang abstrak (niskala) yang diwakilinya. Misalnya, planet Saturnus dengan gerakannya yang perlahan dipandang sebagai yang tenang dan jahat. Planet Mars dengan cahaya merah menyala dipandang sebagai alamat perang, malapetaka, dan kejahatan, dan begitu seterusnya. Jupiter dengan cahaya keemasannya yang agung dipandang sebagai keberuntungan dan keramahan kepada siapa pun yang berada di bawah pengaruhnya. Venus adalah simbol dan dewi cinta berahi dan seterusnya. Orang Arab juga musyrik mengangkat Waktu (Dahr) menjadi berhala, yang sudah ada dari zaman ke zaman, membagi-bagikan nasib baik dan nasib buruk kepada manusia dan sebagainya. (Diringkas dari tafsir Abdullah Yusuf Ali, Qur’an, Terjemahan, dan Tafsirnya, Lampiran II).

