وَقَالَ مُوْسٰى رَبِّيْٓ اَعْلَمُ بِمَنْ جَاۤءَ بِالْهُدٰى مِنْ عِنْدِهٖ وَمَنْ تَكُوْنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ
Wa qāla mūsā rabbī a‘lamu biman jā'a bil-hudā min ‘indihī wa man takūnu lahū ‘āqibatud-dār(i), innahū lā yufliḥuẓ-ẓālimūn(a).
Musa menjawab, “Tuhanku lebih mengetahui siapa yang (pantas) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di akhirat. Sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak beruntung.”
Dan sebagai jawaban bagi Fir’aun dan kaumnya, dia Musa menjawab, “Tuhan Pemelihara-ku Yang menciptakan aku dan kamu serta memberi aneka bukti kebenaran lebih mengetahui dari aku, kamu dan siapa pun tentang siapa yang pantas membawa petunjuk dari sisi-Nya dan Dia-lah yang akan menetapkan dengan adil siapa yang akan mendapat kesudahan yang baik di akhirat. Jangan berlaku zalim, sebab sesungguhnya telah menjadi ketetapan Allah bahwa orang-orang yang zalim selamanya tidak akan mendapat kemenangan.”
Tuduhan Fir‘aun dan kaumnya bahwa bukti-bukti yang dikemukakan Musa hanya sihir belaka dijawabnya dengan tenang dan tidak keluar dari adab dan sopan santun berdebat, tanpa menuduh lawannya bahwa mereka telah sesat. Musa mengatakan kepada mereka bahwa Tuhannya yang lebih mengetahui siapa sebenarnya yang membawa petunjuk dari Allah dan siapa sebenarnya yang beruntung yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat. Di balik itu, dalam hatinya ia yakin sepenuhnya dialah yang benar, dialah orang yang beruntung dan siapa yang menentang kebenaran yang dibawanya pasti akan merugi dan menyesal. Jawaban ini sama dengan jawaban yang diberikan oleh Nabi Muhammad kepada kaum musyrikin yang menentangnya, seperti tersebut dalam firman Allah:
۞ قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٤ (سبأ)
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’/34: 24)
Walaupun demikian, Musa tetap menegaskan bahwa orang zalim tidak akan memperoleh kemenangan. Ini adalah sebagai isyarat kepada Fir‘aun dan kaumnya bahwa mereka tidak akan menang. Mereka pasti akan kalah dan hancur karena mereka adalah orang-orang yang sombong dan aniaya.
1. Rid’an رِدْءًا (al-Qaṣaṣ/28: 34)
Akar katanya adalah rada’a-yarda’u-rad’ yang berarti ‘menyokong’. Kata rid’un adalah kata bendanya, artinya ‘pengikut yang selalu menyokongnya’. Dalam al-Qaṣaṣ/28: 34 terdapat ayat, fa’arsilhu ma’iya rid’an yuṣaddiqunī (utuslah ia bersamaku sebagai penyokong yang selalu membenarkanku). Itu adalah ucapan Nabi Musa yang memohon kepada Allah agar adiknya, Nabi Harun, dapat dijadikan pendampingnya yang setia.
2.’Aḍudaka عَضُدَكَ (al-Qaṣaṣ/28: 35)
Akar katanya adalah ‘aḍada-ya’ḍudu-’a udan yang berarti ‘menyokong’ atau ‘membantu’. Al-’Aḍud adalah ‘penyokong’ atau ‘pembantu’. Al-’Aḍud secara harfiah berarti ‘lengan’, maksudnya adalah penyokong utama. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat, wa mā kuntu muttakhizal-muḍillīna ‘aḍudā (dan saya tidak akan mengambil orang-orang yang menyesatkan sebagai penyokong utama) (al-Kahf/18: 51). Maksudnya adalah Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang sesat dan menyesatkan sebagai pembantu yang akan menjalankan agama-Nya.

