v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 7 - Surat Al-Insān (Manusia)
الانسان
Ayat 7 / 31 •  Surat 76 / 114 •  Halaman 579 •  Quarter Hizb 58.5 •  Juz 29 •  Manzil 7 • Madaniyah

يُوْفُوْنَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُوْنَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهٗ مُسْتَطِيْرًا

Yūfūna bin-nażri wa yakhāfūna yauman kāna syarruhū mustaṭīrā(n).

Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.

Makna Surat Al-Insan Ayat 7
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Di antara amal kebaikan yang akan diberikan balasan seperti di atas antara lain adalah bahwa mereka memenuhi nazar sebagai bukti mereka adalah orang-orang cenderung kepada kebaikan, dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana yaitu siksa neraka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya menyebutkan beberapa sifat orang-orang abrār (berbuat kebaikan), yaitu: mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Menunaikan nazar adalah menepati suatu kewajiban yang datang dari pribadi sendiri dalam rangka menaati Allah. Berbeda dengan kewajiban syara (agama) yang datang dari Allah, maka nazar bersifat pembebanan yang timbul karena keinginan sendiri dengan niat mensyukuri nikmat Allah. Baik nazar maupun syarak, kedua-duanya hukumnya wajib dilaksanakan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Mālik, al-Bukhārī, dan Muslim dari ‘Aisyah, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللّٰهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ. (رواه البخاري ومالك وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه عن عائشة)

Bahwasannya Rasullallah saw bersabda: Barang siapa yang bernazar menaati Allah, hendaklah ia menepati nazar itu, (tetapi) janganlah dipenuhi jika nazar itu untuk mendurhakai-Nya. (Riwayat al-Bukhārī, Mālik, Abū Dāwud, at-Tirmiżī, an-Nasā'ī dan Ibnu Mājah dari ‘Aisyah)

Dalam beberapa hadis dijelaskan tentang ketentuan nazar, di antaranya adalah:

1. Hadis riwayat al-Bukhārī dari ‘Aisyah di atas menjelaskan bahwa nazar yang bermaksud hendak menaati Allah wajib dipenuhi, sedangkan nazar dengan niat mendurhakai Allah tidak boleh dipenuhi. Demikian pula hadis-hadis riwayat at-Tirmiżī, Abū Dāwud, dan an Nasā'ī.

2. Rasulullah saw memerintahkan kepada Sa‘ad bin Ubadah agar membayar puasa nazar yang pernah diucapkan oleh ibunya yang telah meninggal. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari Sa‘ad bin Ubadah.

Selain dari menyempurnakan janji, orang abrār juga mau meninggalkan segala perbuatan terlarang (muḥarramāt) karena takut akan dahsyatnya siksa yang harus diterima di hari Kiamat akibat mengerjakannya. Sebab pada hari itu, segala kejahatan dan kedurhakaan yang pernah dikerjakan seseorang disebarluaskan. Hanya orang-orang yang dikasihi Allah saja yang selamat dari keadaan yang mengerikan itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Kāfūran كَافُوْرًا (al-Insān/76: 5)

Kāfūr adalah sejenis minyak (damar) yang diperoleh dari pohon tertentu (yaitu sejenis pohon gaharu) yang banyak terdapat di daratan Cina dan Jawa (Asia Tenggara). Minyak ini baru dapat diambil dari pohonnya setelah pohon itu berumur sekitar 200 tahun. Warna minyak ini putih dan baunya harum. Pada ayat ini, yang dimaksud dengan kāfūr adalah keharuman dan warnanya yang bening, dan bukan sebagaimana yang dilihat di dunia. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kāfūr pada ayat ini adalah nama dari salah satu mata air yang ada di surga.

2. Qamṭarīran قَمْطَرِيْرًا (al-Insān/76: 10)

Kata qamṭarīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja qamṭara-yuqamṭiru yang artinya berkumpul atau mengikat sesuatu dengan kuat. Seseorang yang mengerutkan dahinya bagaikan mengumpulkan atau mengikat kulit dahinya dengan kuat. Keadaan seperti ini mengisyaratkan bahwa ia sedang menghadapi suatu persoalan yang berat dan sulit, sehingga ia mesti berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Dapat juga hal ini berkaitan dengan sesuatu yang tidak disenangi, sehingga ia perlu mengernyitkan dahi dalam meresponnya. Dari makna demikian, kata tersebut kemudian diartikan sebagai suasana yang sangat sulit.