v2.9
Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 1 - Surat Aḍ-Ḍuḥā (Duha)
الضّحى
Ayat 1 / 11 •  Surat 93 / 114 •  Halaman 596 •  Quarter Hizb 60.25 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَالضُّحٰىۙ

Waḍ-ḍuḥā.

Demi waktu duha

Makna Surat Ad-Duha Ayat 1
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Demi waktu duha ketika matahari naik sepenggalah, atau demi waktu siang seluruhnya. Penyebutan waktu duha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika Nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surah ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu Ḍuḥā (waktu matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam beserta kegelapan dan kesunyiannya, bahwa Dia tidak meninggalkan Rasul-Nya, Muhammad, dan tidak pula memarahinya, sebagaimana orang-orang mengatakannya atau perasaan Rasulullah sendiri.

Isi Kandungan Kosakata

1. Sajā سَجَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 2)

Kata sajā merupakan bentuk fi‘il māḍī yang memiliki arti tenang, tidak bergerak. Sajā al-baḥr berarti laut itu ombaknya tenang, tidak berbahaya. Mata yang sayu dan sendu disebut dengan sājiyah. Unta yang telah diperah susunya dan duduk dengan tenang dinamai sajwā. Tasjiyah adalah menutup jenazah dengan kain kafan. Dari beberapa pengertian di atas, kata sajā mengandung makna ketenangan dan kenyamanan. Kata ini hanya terulang sekali yaitu dalam ayat ini.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sumpah-Nya yaitu demi waktu Ḍuḥā dan demi malam apabila telah sunyi. Kata al-lail adalah waktu antara tenggelam matahari sampai terbit fajar. Keadaan malam dari sisi kegelapannya berbeda dari satu saat ke saat yang lain. Untuk menggambarkan keadaan malam ini, maka Allah mengungkapkannya dengan sajā yang berarti hening, tenang, tidak ada suara bising atau gaduh. Inilah sifat malam yang menjadi waktu istirahat manusia setelah merasa lelah bekerja pada siang hari.

2. Qalā قَلَى (aḍ-Ḍuḥā/93: 3)

Kata qalā terambil dari kata al-qa-w (dengan wāu) yang berarti pelemparan. Seseorang atau sesuatu yang menjadi objek penderita dari kata tersebut (yang dilemparkan), seakan-akan dilempar keluar dari hati akibat kebencian si pelempar terhadap yang bersangkutan. Qalatin-nāqah birākibihā artinya unta itu melemparkan penumpangnya. Dari sini kata tersebut diartikan sebagai kebencian yang telah mencapai puncaknya. Sebagian mengatakan berasal dari kata al-qalyu (dengan yā’) yang berarti menggoreng atau memasak. Dari dua pengertian di atas, makna pertama lebih cocok yaitu menggambarkan kebencian yang amat sangat atau kebencian yang sudah mencapai tingkat akumulasinya. Lafal ini hanya ditemukan dua kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini dan Surah asy-Syu‘arā’/26: 168 (Innī li‘amalikum minal-qālīn) yang berbicara tentang ajakan Nabi Lut kepada kaumnya untuk meninggalkan kebiasaan yang sangat dibenci yaitu perilaku homoseksual. Tidak disebutkannya objek dalam ayat ini menunjukkan bahwa tidak hanya Muhammad yang tidak dibenci oleh Allah, tetapi juga kaumnya dan Dia tidak membenci dengan kebencian yang amat sangat kepada siapa pun.